City Portal of Pekanbaru

Adimir rela keluar dari perusahaan migas top untuk berdayakan masyarakat

pkbm.jpg
(ist)

MATA Riska Harumanti (20) terlihat menyapu halaman demi halaman buku yang ada di genggamannnya. Malam itu, selepas hujan, ia bergelut dengan buku terkait budi daya jagung.

Siswa paket C Pusat kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Pelita Riau tersebut mengatakan, hobinya membaca tersalurkan dengan adanya taman bacaan masyarakat (TBM) itu.

"Kebetulan memang lagi tertarik untuk budi daya jagung. Jadi sekarang lagi mempelajari buku-buku tentang itu," ujar Riska beberapa waktu lalu.

Di sudut lain, Arif Budiman (22) juga sibuk membaca buku mengenai budi daya lele.

Itu merupakan pemandangan rutin yang terjadi di taman bacaan masyarakat Kampung Literasi Balper AueiO yang terletak di Jalan Balai Pernikahan No 70 RW 02, Kelurahan Limbungan Baru, Kecamatan Rumbai Pesisir, Kota Pekanbaru.

"Kalau pagi hari lebih ramai lagi yang membaca di TBM ini. Kebetulan tempat ini selalu buka 24 jam," kata Pengelola Kampung Literasi Balper AueiO, Adimir A Baluka.

Kampung Literasi Balper AueiO yang diresmikan pada 29 September 2016 tersebut, merupakan program jangka panjang. Pelaksanaannya dijalankan selama 12 bulan dengan cara beragam.

Adimir mengatakan nama Balper dipilih karena kampung literasi tersebut terletak di Jalan Balai Pernikahan. Sehingga untuk memudahkan masyarkaat menemukan kampung literasi tersebut, ia kemudian menyingkatnya.

"Kampung Literasi BalPer AuieO merupakan kawasan kampung yang digunakan untuk mewujudkan masyarakat Melek Aksara (dasar, lanjutan, maupun multi aksara) agar memiliki pengetahuan dan pemahaman lebih luas," kata Adimir.

Selain mengelola kampung literasi, Adimir dan rekan-rekannya mengelola PKBM Pelita Riau. Sebelum proses belajar-mengajar dimulai, peserta didik paket A, B dan C biasanya membaca di TBM.

Kampung literasi tersebut merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi dan tempat menumbuhkembangkan minat baca pada masyarakat. Dilaksanakan setiap bulan, dengan tema-tema seperti literasi pendidikan, literasi kesenian, literasi media, literasi kesehatan, literasi ekonomi dan keuangan, literasi teknologi informasi, literasi anak usia dini, literasi masyarakat, literasi hukum, literasi La Tan (pertunjukan film), dan literasi Be Mok Pojok Baca.

Kegiatan yang diselenggarakan mulai dari perlombaan, gotong royong, pertunjukan film, pojok baca, seminar, dan bedah buku.

Tak sekadar menunggu, pengelola berinisiatif untuk mengembangkan minat baca masyarakat dengan perpustakaan keliling. Perpustakaan yang berbentuk becak motor tersebut, rutin berkeliling ke sejumlah tempat terpencil di wilayah Pekanbaru, seperti Okura maupun Muara Fajar. Becak motor tersebut memuat sedikitnya 200 buku bacaan.

"Setiap berkeliling, becak motor tersebut mendapat sambutan yang tinggi dari masyarakat terutama anak-anak," kata Adimir.

Oleh karenanya, ia berinisiatif untuk menambah buku bacaan guna meningkatkan minat baca anak-anak di pinggiran kota tersebut. Ia berencana membeli buku-buku bacaan untuk anak-anak.

Awalnya mantan napi

Keberadaan kampung literasi tak bisa dilepaskan dari kehadiran Pusat Kegiatan dan Belajar Masyarakat (PKBM) Pelita Riau yang didirikan sejak 2002.

PKBM Pelita Riau pada awalnya berbentuk yayasan yang membina para mantan narapidana. Pada saat itu pula, Adimir mendapatkan akses pada program kecakapan hidup. Para mantan napi tersebut dibina dan diajari bercocok tanam seperti menanam jagung, melon dan cabai.

Kemudian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melalui Direktur Pendidikan Masyarakat (Dikmas) saat itu Eko Jatmiko meminta agar yayasan tersebut diubah menjadi PKBM. Alasannya, PKBM jangkauannya lebih luas.

"Hingga saat ini, sudah ada sekitar 6.000 lulusan PKBM tersebut baik dari program kesetaraan, kursus, kecakapan hidup, tata busana, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan sebagainya," jelas Adimir, yang mengelola PKBM tersebut bersama istrinya, Hj Fransisca.

Sebelum menjadi pengelola PKBM, Adimir pernah menjadi pegawai perusahaan minyak dan gas multinasional dengan penghasilan lebih dari cukup.Ia memutuskan keluar dari zona nyaman dan memilih menjadi pengelola PKBM.

Awalnya, keluarga sempat tidak terima dengan keputusannya. Adimir terus meyakinkan mereka bahwa apa yang dilakukannya semata untuk pemberdayaan masyarakat.

Adimir juga menghibahkan lahan dan rumah seluas 400 meter untuk kegiatan PKBM. Awal berdirinya PKBM, program yang pertama kali didirikan adalah program pendidikan usia dini (PAUD). Saat itu jumlah murid PAUD lebih dari 100 orang, meskipun dengan kondisi seadanya.

Setelah 15 tahun berkiprah di masyarakat Pekabaru, kini PKBM Pelita Riau semakin diminati. Hampir setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh PKBM Pelita Riau, animo masyarakat setempat membludak. Hal itu, kata dia, tak lepas dari pembinaan yang dilakukan oleh Kemdikbud.

"Kalau bantuan dari pusat sudah cukup banyak. Ada pula bantuan Australia, yang ikut menyumbang dana pembangunan bertingkat untuk program kesetaraan," ucapnya.

Upaya Adimir tak sia-sia, banyak anak didik di PKBM tersebut yang terbilang sukses, mulai dari jadi atlit nasional, dosen, karyawan di stasiun televisi swasta, wirausaha, dan sebagainya.

"Ketika kami jalan-jalan di Kuala Lumpur, ada yang menyapa dan ternyata mantan anak didik kami," ucapnya bangga.

Dia sangat senang anak-anak didik bisa berhasil. Adimir memberi contoh anak didiknya yang bekerja di salah satu stasiun televisi swasta, yang sebelumnya jualan bakso keliling di Pekanbaru.

"Untuk para alumni, kami tekankan begini, jangan sampai ada yang menganggur. Kalau masih menganggur, silakan datang kemari, kami carikan pekerjaan," ucapnya.

Ditanya suka duka dalam mengelola PKBM, Adimir selalu menjawab lebih banyak sukanya. Terutama kalau anak didik berhasil.

Adimir tak segan-segan mengeluarkan dana dari koceknya sendiri. Setiap ingin membangun ruangan untuk kegiatan PKBM, ia tak jarang menjual hartanya. "Kami jual kebun sawit yang ada. Contohnya untuk bangunan tingkat program kesetaraan, dana yang diberikan pemerintah Australia sebesar Rp 150 juta. Dengan uang segitu tentu masih kurang. Akhirnya, kami menjual sebidang kebun sawit kami," terang Hj Fransisca, istri Adimir.

Begitu pun untuk operasional bulanan, terkadang terpaksa nombok. Dalam sebulan saja, tagihan listrik mencapai Rp 2 juta. Belum lagi biaya rutin untuk gaji tutor.Menurut dia, hal itu tak masalah asalkan bisa bermanfaat untuk masyarakat di sekitar.

Yang menarik, di PKBM tersebut anak-anak yang sebelumnya malas ke sekolah kembali memiliki motivasi untuk belajar. "Kuncinya perhatian dan kasih sayang. Ada anak yang malas ketika Ujian Nasional (UN), dibangunkan orangtuanya tidak mau bangun. Tapi begitu kami yang datang ke rumahnya, anak itu langsung bangun," tuturnya.

Fransisca bermimpi membangun gedung PKBM lebih bagus, terdiri dari 19 kelas, sehingga bisa menampung banyak kegiatan. "Mudah-mudahan segera ada dananya," kata dia. (ant/sfa)