City Portal of Pekanbaru

Freza meretas mimpi jadi penyanyi dengan SLUM

lagu-slum.jpg
(ist)

BERCITA-cita menjadi musisi dari kecil, Freza Anhar coba menggapai angan itu lewat suara emas dan kemampuan menciptakan lagu.

Nama dan karyanya memang belum familiar bagi warga Kota Pekanbaru. Lelaki berusia 26 tahun ini, baru pertama kali membawakan lagunya sebagai solois di panggung besar pada Festival Industri Kreatif Riau 2016 di Pekanbaru pada 17 Desember lalu.

Saat itu dengan percaya diri Freza membawakan lagu ciptaannya sendiri, dengan sebuah gitar akustik, tanpa iringan band. Lagu berjudul SLUM (Sebuah Lagu Untukmu) seperti membius sejumlah penonton untuk berdiri di depan panggung.

Lagu itu sederhana, memadukan lirik Indonesia dan Inggris di bagian reffrein, dan punya 'hook' yang mudah diingat pendengarnya. Suara Freza terdengar sangat khas, serak saat menjangkau nada tinggi, dan sangat bertenaga.

"Pertama kali saya bawakan lagu SLUM itu dipanggung besar ya di Festival Industri Kreatif Riau," ucap Freza ketika ditemui di Empistudio, Pekanbaru, pekan lalu.

Anak ketiga dari empat bersaudara ini mengaku belajar musik secara otodidak sejak masih duduk dibangku SD. Freza kecil saat itu merasa sudah yakin dengan pilihannya. Bahkan sampai menuliskan cita-citanya di buku tahunan SD bahwa ingin menjadi musisi terkenal.

Ia mulai berani membuat lagu sendiri sejak SMA. SLUM adalah satu dari sekian banyak lagu yang telah diciptakannya.

"SLUM itu lagu yang saya ciptakan pada awal 2016, bercerita tentang sosok imajiner ketika mencari cinta yang tidak pernah saya percaya, tapi sebenarnya ingin merasakannya," kata Freza, yang mengaku banyak terinspirasi oleh John Mayer, James Bay, James Brown dan Ari Lesmana, dalam bermusik.

"Sekarang cita-citaku ingin jadi legenda di musik," tegasnya.

Sang manajer, Roni Azhar tertarik untuk memoles bakat natural Freza karena saat awal bertemu sudah merasa ada potensi terpendam yang sangat besar. Menurut dia, talenta Freza bukan hanya di vokal dan kerja kerasnya. Melainkan juga produktivitasnya dalam menyipta karya.

"Dia sangat produktif untuk ukuran musisi otodidak. Insting bermusiknya bagus dan karyanya segabruk (banyak)," kata dia.

Roni mengungkapkan, semula hanya ingin mengetes Freza apakah memiliki karya lain baik itu membawakan lagu orang lain (cover), maupun ciptaan sendiri. Dan ia mengaku terkejut karena Freza langsung menyanggupinya dengan menyerahkan lima lagu cover serta sejumlah lagu buatannya sendiri.

"Karya banyak itu wajar, tapi lagu-lagu yang dia punya itu cepet nempel (diingat) dan tidak murahan. Lirik-liriknya tidak di level permukaan, untuk menggambarkan cinta dengan cara yang luar biasa," katanya.

Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi digital, Roni membuatkan kanal khusus untuk memperkenalkan karya Freza ke publik. Salah satunya bisa dilihat di www.vidio.com/@frezamusic.

"Video lagu ciptaan Freza ada disana yang dibawakan secara live. Harapannya supaya publik bisa mulai terbiasa mendengarkan Freza, sampai nanti saatnya dia membuat album," ucapnya.

Roni sedikit memberi bocoran bahwa bakat Freza lewat lagu SLUM sudah mulai menarik perhatian sejumlah pelaku industri musik di Jakarta. (ant/sfa)