City Portal of Pekanbaru


Olga Lydia ajak tahan jempol, apa maksudnya?

olga-lydia.jpg
(ist)

ARTIS Olga Lydia tak langsung percaya dengan informasi, apalagi sifatnya bombastis dan menghasut, yang tersebar lewat media sosial. Ia pun menahan diri agar tak segera membagikan (share) kabar atau berita yang belum terverifikasi itu.

Itu dilakukan agar tidak terjebak berita-berita tak benar atau hoax.

“Kita harus tahan jempol. Kalau baca berita nggak langsung share, tapi cari dulu (kebenarannya),” kata Olga saat ditemui dalam acara deklarasi dan sosialisasi Masyarakat Indonesia Anti Hoax di kawasan Hari Bebas Kendaraan Bermotor di Jakarta, Minggu (8/1/2017).

Olga lebih memilih untuk mengecek ulang informasi yang ia terima. Bila tidak sempat mengeceknya, ia memilih untuk tidak membagikannya, begitu juga bila informasi yang ia terima bernada menghasut.

“Cek gambar, web apa saja yang sudah mengeluarkan,” kata dia.

Hoax dapat memicu pertemanan putus dan Olga menyayangkan bila sampai terjadi hal seperti itu.

“Nggak lucu banget, sudah putus, ternyata hoax,” kata dia.

Di tempat sama, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengajak masyakarat dan komunitas untuk bersama-sama mengatasi berita hoax.

“Peran serta masyarakat begitu penting dan pemerintah akan mengajak masyarakat,” kata Menkominfo saat sosialisasi bersama Masyarakat Indonesia Anti Hoax di Hari Bebas Kendaraan Bermotor di kawasan Sudirman, Jakarta, Minggu pagi.

Perang melawan hoax saat ini dilakukan dari hulu, yaitu dengan mengadakan literasi dan sosialisasi agar masyarakat Indonesia mendapatkan konten yang sehat.

Kominfo menyediakan fasilitas pengaduan bagi masyarakat namun dengan bekerja sama dengan komunitas, ia berharap ada penapisan dari masyarakat langsung.

“Ada self-filtering dari kita semua,” kata dia.

Sosialisasi juga dilakukan ke sekolah dan juga membuat white list, daftar putih, situs yang sebaiknya diakses oleh lembaga pendidikan formal maupun informal, sejak 2015.

Rudiantara berharap pada 2019 mendatang, daftar putih yang kini berjumlah sekitar 100 ribu situs dapat berjumlah lebih banyak dari black list.

Cendikiawan muslim Prof. Komaruddin Hidayat pada acara yang sama menambahkan hoax sejenis dengan korupsi dan sifat curang sehingga harus dilawan.

Bila tidak ingin bangsa hancur, lanjut dia, masyarakat harus bergerak untuk memerangi hoax. (ant/sfa)