City Portal of Pekanbaru


Penasaran dengan yang dikatakan sains tentang jatuh cinta? Yuk intip

Kencan-bersama-pacar.jpg
(ist)

Cinta memang begitu menakjubkan. Namun, bukan berarti cinta adalah sebuah misteri yang tak bisa dijelaskan sama sekali. Ternyata, para ahli berhasil merumuskan lima tahap penting dalam proses jatuh cinta berdasarkan perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh. Penasaran apa yang terjadi pada tubuh Anda ketika dimabuk cinta? ini dia:

1. Terpikat

Sebelum seseorang jatuh cinta, tentu akan merasakan ketertarikan yang hebat pada awal bertemu atau berbicara. Ada banyak hal yang bisa membuat seseorang tampak memikat hati, misalnya penampilan, suara, cara berbicara, bahasa tubuh, usia, atau kesamaan sifat dan latar belakang.

Pada tahap pertama ini, hal-hal yang membuat dirinya memikat akan mengaktifkan bagian otak yang bernama reseptor opiod. Reaksi otak ini serupa dengan reaksi yang muncul ketika tubuh menerima obat pereda nyeri yaitu morfin. Bagian opioid bertanggung jawab untuk mengendalikan perasaan suka atau tidak suka akan suatu hal.

Sebuah studi dalam jurnal Molecular Psychiatry tahun 2014 seperti dikutip hellosehat.com mengungkap bahwa para peserta penelitian yang diberi morfin cenderung lebih mudah merasa terpikat pada orang lain dibandingkan mereka yang tidak diberikan morfin. Ini berarti aktivitas otak memang berperan sangat penting pada proses jatuh cinta.

2. Kasmaran

Setelah merasa terpikat, rasa ingin tahu lebih banyak soal dirinya dan ingin berada di dekatnya. Inilah tahap jatuh cinta kedua yang dikenal dengan fase kasmaran. Tahap jatuh cinta ini ditandai dengan munculnya euforia atau perasaan sangat gembira dan antusias berlebihan. Tubuh akan memicu produksi hormon dopamin, adrenalin, dan norepinefrin.

Akan tetapi, perasaan bahagia yang muncul juga diikuti dengan ketegangan. Ini karena hormon adrenalin adalah salah satu hormon yang diproduksi ketika sedang stres. Maka tak heran jika di saat kencan pertama, jadi merasa tegang dan gugup setengah mati. Beberapa orang menunjukkan reaksi tubuh yang berbeda-beda terhadap ketegangan ini. Ada orang yang jadi berkeringat, gelisah, mual, sakit perut, bahkan gatal-gatal. Biasanya jantung akan berdegup lebih kencang saat bersama dengan orang yang disukai.

Hormon norepinefrin yang merupakan stimulan juga akan membuat sulit tidur. Selain itu saat bersama dengan orang yang disukai, jadi lebih perhatian soal segala hal tentangnya. Mulai dari caranya tersenyum, tawanya, atau ekspresi wajahnya. Ini karena hormon tersebut membuat lebih waspada, sama seperti efek minuman berkafein.

3. Dunia berputar di sekitar kekasih

Ketika berusaha untuk mengenal dan mencari tahu soal dirinya lebih dalam, akan masuk dalam tahap jatuh cinta yang ketiga. Dalam tahap ini, peredaran darah menuju bagian otak yang disebut nukleus akumben meningkat jadi lebih deras.

Nukleus akumben adalah bagian otak yang mengendalikan kenikmatan dan penghargaan (reward). Maka, ketika sedang bersama orang yang disukai atau memikirkan soal dirinya, otak akan membacanya sebagai bentuk kenikmatan dan reward.

Hal ini mirip dengan reaksi otak terhadap candu. Karena otak sudah menerima informasi seputar sang kekasih sebagai hal yang memuaskan, otak akan terus memerintahkan untuk memenuhi kebutuhan akan dirinya. Inilah yang membuat selalu mendambakan sosoknya dan tak pernah bosan dengan dirinya di awal masa jatuh cinta. Hidup pun jadi berputar di sekitar kekasih. Apa pun yang dilakukan atau dipikirkan, sosoknya pasti muncul dalam benak. Rela melakukan apa saja demi menyenangkan dirinya, bahkan hal-hal yang konyol atau sulit sekalipun.

4. Cinta itu buta

Jatuh cinta membuat kadar zat-zat tertentu dalam otak seperti serotonin berkurang, terutama pada laki-laki. Kondisi ini banyak diamati pada orang-orang yang mengidap gangguan obsesif kompulsif (OCD). Pasalnya, kadar serotonin yang rendah menjadi alasan mengapa jadi merasa begitu terobsesi pada pasangan.

Perasaan ini juga mengabaikan sifat-sifat negatif pasangan dan hanya mau melihat sifat-sifat positifnya saja. Inilah mengapa banyak orang bilang bahwa cinta itu buta. Dalam beberapa kasus, kadar serotonin rendah yang dibarengi dengan naiknya hormon adrenalin dan norepinefrin mampu meningkatkan gairah seksual.

5. Berkomitmen pada satu sama lain

Lama-lama tubuh akan mulai terbiasa dengan berbagai perubahan yang terjadi pada hormon, otak, dan fungsi tubuh lainnya ketika jatuh cinta. Mulai merasa lebih nyaman, tak lagi gugup sampai keringatan atau sakit perut ketika bersamanya. Inilah tahap jatuh cinta yang terakhir, yaitu membangun komitmen dan ikatan berdua.

Dua hormon yang berperan penting dalam tahap ini adalah oksitosin dan vasopresin. Keduanya juga sering disebut sebagai hormon cinta. Meningkatnya oksitosin dan vasopresin dalam tubuh akan membuat merasa tenteram dan aman ketika sedang bersama dengan pasangan atau saat memikirkannya. Inilah yang mendorong pasangan untuk saling berkomitmen pada satu sama lain.