City Portal of Pekanbaru


Terus Meningkat, Penderita HIV/AIDS di Pekanbaru 357 Orang

hiv-aids.jpg
(istimewa)

KOMISI Penanggulangan AIDS Kota Pekanbaru mencatat jumlah penderita human immunodeficiency virus/"acquired immune deficiency syndrome (HIV/AIDS) cenderung meningkat. Sejak Januari hingga Oktober 2016 mencapai 357 orang penderita.

"Angka tersebut hampir mendekati kasus sepanjang tahun 2015," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Pekanbaru Hasan Supriyanto di Pekanbaru, Senin (5/12).

Hasan Supriyanto menjelaskan dari data yang berhasil dirangkum pihaknya memang jumlah penderita HIV dan AIDS di Kota Pekanbaru sangat mengkhawatirkan. Karena tiap tahun bertambah.

Ia merinci jika dibandingkan tahun lalu pada bulan yang sama tidak sebesar tahun ini.

"Dimana sejak bulan Januari hingga Oktober 2016 sudah terdapat 201 kasus HIV dan 156 kasus AIDS," terang Hasan.

Sementara tahun lalu jumlahnya hanya 409, sementara tahun ini baru 10 bulan sudah mencapai 357 jiwa.

"Angka tersebut hampir mendekati kasus sepanjang tahun 2015, yang terinci atas 241 kasus HIV dan 168 kasus AIDS," jelasnya.

Hasan menerangkan kasus HIV dan AIDS yang dijumpai di Pekanbaru dominan ditemukan pada laki-laki dengan usia produktif 25 sampai 49 tahun.

"Khusus HIV, jika berdasarkan pekerjaan banyak ditemukan pada tenaga non profesional dengan jumlah 367 kasus, wiraswasta 152 kasus, penjaja seks 181 kasus, dan ibu rumah tangga 115 kasus," tegasnya.

Sebelumnya diberitakan peningkatan penderita HIV/AIDS mendapat kritikan dari Pengamat Pemerintahan Universitas Islam Riau (UIR), Zaini Ali dikarenakan Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Pekanbaru tidak bekerja maksimal dalam menanggulangi penyakit HIV dan AIDS di Kota Pekanbaru.

"Jika jumlah penderita HIV dan AIDS terus meningkatkan setiap tahunnya, tentunya Diskes tidak bekerja dan dikatakan semakin menurun prestasinya dalam menanggulangi penyakit berbahaya ini," kata Zaini Ali.

Menurut Zaini Ali sampai sejauh ini, sebagai masyarakat, dirinya tidak mendengar sejauh mana sosialisasi yang dilakukan Diskes Kota Pekanbaru tentang penularan bahaya penyakit HIV dan AIDS di tengah-tengah masyarakat walaupun itu sudah dianggarkan.

"Ini tentunya perlu dipertanyakan, sejauh mana peran dan kinerja Diskes dalam memerangi penularan penyakit HIV dan AIDS. Terutama pada program tentang pencegahan dan sosialisasi bahaya penyakit berbahaya ini," ucapnya.

Maka dari itu, Zaini Ali menyebutkan peran Wali Kota Pekanbaru sangat penting untuk menekankan kepada dinas terkait, yakni Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, dan Satpol PP serta Kemenag Kota Pekanbaru untuk melakukan pengawasan dan razia-razia pada pintu-pintu masuk di Kota Pekanbaru ini.

"Jika perlu razia akan bahaya penularan dan penderita HIV dan AIDS harus sampai ke hotel-hotel dan tempat hiburan. Tapi hal ini tidak pernah dilakukan oleh dinas terkait," tegasnya.

Menurutnya, semakin tingginya jumlah penderita HIV dan AIDS di Kota Pekanbaru tersebut juga disebabkan ketidaktahuan dan tidak mau tahu masyarakat tentang bahaya penyakit HIV dan AIDS.

"Saat ini masyarakat kota tengah dihadapkan dengan kemajuan teknologi sehingga mereka lupa kontrol sosial dan agama mereka sendiri," katanya mengakhiri. (ant)