City Portal of Pekanbaru


Tolak Mediasi, Nelayan Bantan Bakar Kapal Pukat Harimau

kapal-trawl-dibakar.jpg
(istimewa)

SEJUMLAH nelayan tradisional di Kecamatan Bantan, Bengkalis, membakar sebuah kapal penangkap ikan berbobot enam ton asal Meranti, yang dilengkapi jaring pukat harimau (trawl).

"Kita masih mendalami peristiwa pembakaran kapal ini. Selain itu kita juga berupaya melakukan mediasi antar nelayan," kata Kepala Bidang Humas Polda Riau, AKBP Guntur Aryo Tejo di Pekanbaru, Kamis (8/12).

Guntur menuturkan, peristiwa pembakaran kapal nelayan pukat harimau ini terjadi pada Rabu sore lalu (7/12) di Desa Muntai, Kecamatan Bantan.

Kapal motor (KM) Gunung Lima, milik seorang nelayan asal Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, awalnya melakukan aktifitas penangkapan ikan di perairan Desa Muntai. Yang membuat nelayan marah, kapal itu menggunakan jaring pukat harimau.

Nelayan setempat sebenarnya tidak mempermasalahkan pencarian ikan di wilayah mereka. Akan tetapi, mereka sangat tidak bisa menerima apabila menjaring ikan menggunakan jaring trawl. Seperti diketahui, penggunaan jaring trawl dilarang, karena dapat mengganggu ekosistem ikan.

Mendapati KM Gunung Lima yang dinakhodai Bakri dan sejumlah anak buah kapal dari Kepulauan Meranti, nelayan setempat segera mengejar ke tengah laut dan menangkap mereka.

"Kapal tersebut kemudian digiring ke pantai Desa Muntai, Kecamatan Bantan," ujarnya. Setiba di Desa Muntai, sejumlah nelayan mengamankan nakhoda dan anak buah kapal serta berusaha membakar kapal tersebut.

Aparat Polsek Bantan yang memperoleh informasi itu turun ke lokasi kejadian dan berusaha melakukan mediasi bersama tokoh masyarakat setempat. Upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena nelayan tetap membakar kapal trawl itu.

Polisi masih terus mendalami peristiwa ini. (ant)