City Portal of Pekanbaru

Dian 'Pengantin' Bom Bunuh Diri Pernah Jadi TKI di Oman

bom.jpg
(ist)

DIAN Yulia Novi, perempuan muda yang disebut polisi disiapkan kelompok teroris sebagai 'pegantin' bom bunuh diri, pernah menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Oman.

Kepala Badan nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Nusron Wahid mengatakan, Dian terdaftar secara prosedural di lembaganya.

"Ya memang benar, yang bersangkutan tercatat sebagai TKI," kata Nusron Wahid, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Minggu (11/12).

Nusron menjelaskan, berdasarkan data yang masuk di BNP2TKI, Dian lahir di Cirebon tanggal 4 Juli 1985. Perempuan lulusan SMU itu memegang paspor bernomor AN537753 dengan tanggal paspor 26-1-2010 dan nomor visa 571095/62.

Saat itu menjadi TKI dengan tujuan Oman, dan diberangkatkan oleh PPTKIS Hijrah Amal Pratama. Di Oman, Dian bekerja sebagai Women Worker dengan majikan Hamad Saleem Mansour.

"Kami memang sudah sejak lama memberikan warning kepada TKI agar berhati-hati karena gerakan ISIS menyasar TKI untuk direkrut," terang Nusron.

Dian ditangkap aparat kepolisian dari Densus 88 Antiteror bersama dua terduga teroris lainnya di Bekasi, Jawa Barat, Sabtu lalu. Dalam penggeledahan di kamar kosnya, polisi menemukan bom yang dikemas dalam rice cooker atau bom panci.

Menurut polisi, Dian akan meledakkan diri di objek vital negara, yakni Istana Negara, Jakarta, saat proses pergantian tugas jaga Pasukan Pengawal Presiden (Paspampres), Minggu (11/12). Tapi rencana itu keburu dicium polisi.

Presiden Joko Widodo mengaka kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk berperan aktif memerangi kejahatan terorisme, guna mempbatasi ruang gerak para teroris.

"Karena tanpa dukungan seluruh lapisan masyarakat, sulit rasanya kita melawan terorisme. Tidak ada ruang sekecil apapun di negara kita Indonesia ini untuk geraknya terorisme," ujar Jokowi usai menghadiri acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1437 H di Kantor Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Jakarta Pusat, Minggu.

Kepala Negara mengapresiasi kinerja Polri, khususnya tim Densus 88, yang berhasil mengungkap rencana aksi terorisme yang menyasar Istana Negara. "Ini juga menunjukkan bahwa terorisme itu masih ada dan nyata masih bergerak di negara kita," ujar Jokowi.

Menurut Presiden, serangan terorisme bisa terjadi dimana saja. "Semuanya, masjid pernah (dibom), gereja pernah, hotel pernah, kedutaan pernah, jalan raya pernah," imbuhnya. (ant)