City Portal of Pekanbaru

Jaksa Jerat Ahok dengan 2 Pasal Alternatif

jalani-sidang.jpg
(istimewa)

JAKSA penuntut umum membacakan tujuh lembar dakwaan terhadap terdakwa kasus penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Ada dua pasal alternatif yang digunakan untuk menjerat Ahok.

"Alternatif pertama adalah pelanggaran terhadap pasal 156 a huruf a KUHP, alternatif kedua adalah pasal 156 KUHP," kata Jaksa Penuntut Umum Ali Mukartono dalam sidang Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang digelar di eks gedung Pengadilan Jakarta Pusat, Jl Gajah Mada No 17, Selasa (13/12).

Materi di dalam dakwaan alternatif pertama, Ali menjelaskan, terkait dengan kualifikasi penodaan terhadap agama saat Ahok selaku gubernur DKI Jakarta pada 27 September melakukan kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu, tempat dia menyebut adanya pihak yang menggunakan Alquran Surat Al Maidah Ayat 51 untuk keperluan tertentu.

"Demikian pula dakwaan alternatif kedua pada hakikatnya sama, hanya kualifikasinya yang berbeda," ujar Ali.

Setelah jaksa membacakan dakwaan, Ahok langsung menyampaikan pembelaan, membacakan buku "Berlindung di Balik Ayat Suci" yang dia tulis pada 2008. Ahok juga mengungkapkan kedekatan hubungannya dengan keluarga angkatnya yang Muslim.

Majelis hakim kemudian menutup sidang sekitar pukul 12.00 WIb, Sidang akan dilanjutkan Selasa pekan depan, 20 Desember 2016.

"Persidangan hari ini kami tunda untuk acara tanggapan nota keberatan terdakwa dan penasehat hukum pada Selasa (20/12) pukul 09:00 WIB," kata Ketua Majelis Hakim Dwiyarso Budi Santiarto.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Mukartono mengatakan Ahok diduga melakukan penistaan agama saat melakukan kunjungan sebagai Gubernur DKI Jakarta ke Kepulauan Seribu dalam rangka panen ikan.

Dalam dakwaannya, JPU menyebut Ahok sengaja mengutip Surat Al-Maidah ayat 51 dalam kapasitas sebagai calon Gubernur DKI Jakarta pertahana.

Dengan tindakan tersebut, Ahok diduga melakukan penistaan agama dan menyebar kebencian.

Bubarkan diri

Massa ormas yang berorasi di depan pengadilan perlahan membubarkan diri sekitar pukul 12.00, setelah menyampaikan pendapatnya sejak pukul 09.00 WIB.

Massa memulai orasi setelah tidak diizinkan masuk ke dalam ruang sidang pengadilan yang sudah penuh sesak.
"Pelaksaaan sidang telah selesai, harap masyarakat yang masih berada di depan Pengadilan Negeri Jakarta Utara agar secepatnya membubarkan diri karena mengganggu jalannya arus lalu lintas," kata petugas kepolisian melalui pengeras suara dari depan gedung pengadilan, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Selasa.

Seorang orator aksi kemudian menyerukan kepada anggota ormas untuk meninggalkan lokasi dengan tertib dan tidak meninggalkan sampah.

"Bubarnya dengan tertib. Patuhi polisi karena mereka juga saudara kita," kata seorang orator melalui pengeras dari atas mobil bak terbuka.

Sekitar 15 menit setelah pengumuman itu, sebuah mobil bak terbuka yang memutarkan lagu-lagu religi melalui pengeras suara meninggalkan lokasi diikuti rombongan massa ormas. (ant)