City Portal of Pekanbaru


Kesal Dituding Rekayasa Penangkapan Teroris, Kapolri Bicara Pengunduran Diri

tito-karnavian.jpg
(ist)

KAPOLRI Jenderal Pol. Tito Karnavian gusar bukan main. Ia menyatakan siap mundur dari jabatannya bila terbukti merekayasa pengungkapan kasus dugaan terorisme jaringan Bahrun Naim, di Bekasi, Jawa Barat.

Tito, yang karirnya banyak dia lalui di dunia reserse, menyayangkan sejumlah pihak yang mensinyalir pengungkapan kasus terorisme itu merupakan rekayasa.

Berbicara kepada pers, di Markas Besar Kepolisian Indonesia, Jakarta, Jumat (16/12), Karnavian mengatakan, bila ada pihak memiliki bukti pengungkapan jaringan terorisme di Bekasi itu rekayasa, maka ia meminta pihak-pihak itu membuktikan hal itu.

"Saya akan mengundurkan diri bila saya terlibat merekayasa. Kalau ada bukti bahwa ini rekayasa, tunjukkan buktinya. Kami akan lakukan tindakan tegas! Kalau seandainya tidak ada bukti rekayasa, tolong pertanggungjawabkan ucapan itu (rumor pengalihan isu). Yang kami kerjakan, murni penyelidikan berbulan-bulan," kata dia.

Dia menegaskan, polisi meminta sejumlah pihak untuk tidak asal beropini tanpa memiliki fakta dan data yang kuat.

"Jangan ngomong tanpa data, hanya berdasar opini saja. Kasihan aparat kita yang bekerja keras," ucapnya.

Sehari sebelumnya, anggota DPR Eko Purnomo alias Eko Patrio diundang Bareskrim Polri untuk memberi penjelasan atas komentarnya di media sosial, bahwa pengungkapan jaringan terorisme di Bekasi itu upaya pengalihan isu. Disebutkan, pernyataan Eko kemudian dikutip salah satu media online.

Sejumlah pihak menyesalkan langkah reaktif Mabes Polri atas suatu komentar di ruang publik. Salah satu yang berkata demikian adalah Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah. Begitu Partai Amanat Nasional (PAN), tempat bernaung Eko Patrio.

Menanggapi hal itu, Tito Karnavian mengatakan, "Tolong masyarakat jangan mudah terpengaruh, jangan mudah berkomentar ini pengalihan isu. Kalau ada bukti bahwa ini rekayasa, tunjukkan buktinya itu, kami akan lakukan tindakan tegas."

Seperti diketahui, pada Sabtu (10/12) lalu, Detasemen Khusus 88 Anti Teror Kepolisian Indonesia menangkap tiga terduga teroris, yakni MNS dan AS (laki-laki) serta DYN (perempuan).

Penangkapan itu terjadi empat hari sebelum sidang perdana kasus dugaan penistaan agama, dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, yang juga kontestan Pilkada DKI Jakarta 2017. Inilah yang kemudian memunculkan tudingan penangkapan para terduga teroris itu pengalihan isu jelang sidang Ahok.

Eko Patrio, yang juga dikenal sebagai pelawak, membantah pernah diwawancarai media yang membuat pernyataan soal pengalihan isu tersebut. Sempat tak memenuhi undangan kepolisian kemarin, Eko siang ini mendatangi Bareskrim Polri untuk memberikan klarifikasi. (ant)