City Portal of Pekanbaru

Perekonomian Riau Tumbuh 2,5 Persen di 2016

pembangunan-jembatan-siak-iv.jpg
(ist)

MESKI secara keseluruhan terimbas lesunya perekonomian global, ekonomi Riau cenderung membaik. Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Provinsi Riau memperkirakan perekonomian Riau tahun ini tumbuh sebesar 2,5 persen.

"Kami mengindikasikan ekonomi Riau akan tumbuh 2,04 persen plus minus 0,5 persen pada tahun 2016," kata Kepala Perwakilan Kantor Bank Indonesia Ismet Inono usai acara pertemuan tahunan Bank Indonesia Provinsi Riau 2016 di Pekanbaru, Jumat (16/12).

Memasuki Triwulan IV, kata Ismet, ekonomi Riau mengindikasikan perbaikan dengan membaiknya kinerja berbagai indikator ekonomi setempat.

Dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi tersebut akan bertendensi ke arah atas dan cenderung membaik.

Menurut Ismet, sumber pertumbuhan dari sisi penggunaan berasal dari konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, serta investasi yang meningkat dibandingkan Triwulan III 2016 akan mendorong capaian pertumbuhan hingga akhir tahun 2,5 persen.

"Kegiatan konsumsi diindikasikan mengalami perbaikan meski masih terbatas seiring dengan terjaganya daya beli dan membaiknya ekspektasi konsumen disertai meningkatnya permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru 2017," kata Ismet.

Selain itu, juga ada harapan didorongnya percepatan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) menjelang akhir tahun penutupan buku.

Sementara itu, aktivitas investasi juga diperkirakan akan membaik setelah diterbitkannya beberapa ke bijakan pemerintah, kemudian dilanjutkannya proyek infrastruktur strategis yang pembangunannya dipercepat.

"Pertanian, kehutanan, dan perikanan diperkirakan meningkat seiring dengan adanya pergeseran musim panen, gencarnya program pemerintah bidang intensifikasi, perluasan areal, dan sebagainya," katanya.

Dari sisi eksternal kinerja ekspor pada Triwulan IV 2016, dia memprediksi bakal mengalami kontraksi sebagai dampak dari ketidakpastian ekonomi global, terutama perbaikan mitra dagang yang masih terbatas, serta fluktuasi harga komoditas dunia.

Menurunnya kinerja industri pengilangan minyak dan gas (migas) dan batu bara, menurut dia, menjadi faktor yang menahan pertumbuhan. Mandatori campuran 20 persen biodiesel ke dalam bahan bakar yang berpotensi meningkatkan penyerapan produk industri pengolahan sawit.

Selain itu, adanya kebijakan relaksasi loan to value ratio (LTV) atau rasio pinjaman/kredit terhadap nilai aset/properti diharapkan mampu meningkatkan kredit perumahan rakyat dan mendorong pertumbuhan sektor real estate.

Sementara itu, pengamat ekonomi perbankan Josua Pardede memperkirakan ekonomi Riau 2016 akan tumbuh 1,5 sampai dengan 2,5 persen. Nilai ini akan membaik dan ekonomi Riau pada tahun depan lebih bertumbuh karena daya beli masyarakat secara nasional dan provinsi membaik.

"Saya perkirakan pertumbuhan ekonomi Riau tahun depan bisa 3 hingga 3,5 persen," kata Josua.

Hal itu diyakini Josua karena dirinya melihat harga komoditas global yang erat dengan sektor ekonomi di Riau, antara lain pertanian dan migas, termasuk crude palm oil (CPO) yang mulai membaik.

Dia juga yakin membaiknya ekonomi Amerika juga berimbas pada ekpor Riau.

"Penyumbang ekonomi Riau 2017 akan berasal dari sektor pertanian, manufaktur, dan perdagangan," katanya.

Sektor minyak dan gas belum bisa diandalkan 2017 sebagai penopang pertumbuhan ekonomi. Hal ini karena lifting migas yang terus menurun dan insentif untuk produksi juga masih rendah. (ant)