City Portal of Pekanbaru

Aparat gabungan sita ekskavator yang ditinggal lari operator di TNTN

taman-nasional.jpg
(ist)

KAWASAN hutan lindung Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) terus dirambah untuk perkebunan kelapa sawit. Dalam kasus paling akhir, aparat gabungan mengamankan alat berat ekskavator yang digunakan untuk membuka lahan perkebunan.

Aparat gabungan dari Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Polda Riau serta Korem 031/WB menemukan ekskavator itu di kawasan hutan TNTN di Dusun II Pondok Nogun, Desa Bagan Limau, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan.

"Alat berat tersebut kita duga digunakan untuk membuka kawasan perkebunan sawit di hutan lindung tersebut," kata Kepala Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum (BPPH) Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) Wilayah II Sumatera, Eduwar Hutapea, di Pekanbaru, Rabu (21/12).

Lokasi ditemukannya ekskavator merupakan bekas areal Hutan Produksi Terbatas (HPT), yang saat ini sedang diupayakan untuk dilakukan pemulihan fungsi ekosistem dan masuk dalam kawasan TNTN. Warga sekitar melaporkan, alat berat itu masuk ke wilayah itu sejak beberapa waktu lalu.

Pengintaian kemudian dilakukan personil Polisi Kehutanan Reaksi Cepat atau SPORC Brigade Beruang. "Hasilnya anggota kami dapat memetakan letak alat berat tersebut," kata dia.

Setelah mengetahui posisi kerja alat berat itu, polisi kehutanan berkoordinasi dengan Polda Riau dan Korem 031/WB untuk mengamankan alat berat tersebut pada Selasa (20/12) dini hari.

"Di TKP (tempat kejadian perkara) kami hanya berhasil menemukan alat berat yang ditinggalkan pemilik maupun operator," paparnya.

Petugas kemudian menghubungi aparat desa untuk dimintai keterangan. Saat ini ekskavator itu telah diamankan di BPPH KLHK Pekanbaru untuk keperluan penyelidikan lebih lanjut.

"Hasil pemeriksaan sementara, ekstavator itu telah berada di sana sejak 7 Desember lalu, untuk membuka perkebunan sawit," ujarnya.

Taman Nasional Tesso Nilo, yang membentang di dua kabupaten, merupakan rumah bagi 360 flora yang terbagi dalam 165 marga dan 57 suku. Lalu rumah bagi 107 jenis burung, 23 jenis mamalia, tiga jenis primata, 50 jenis ikan, 15 jenis reptilia dan 18 jenis amfibia.

Pada 19 Juli 2004, kawasan Tesso Nilo dijadikan tanaman nasional dengan areal seluas 38.576 hektare (ha). Lalu pada 19 Oktober 2009, taman nasional tersebut diperluas menjadi 83.068 Ha.

Banyaknya warga yang menetap di dalam TNTN membuat kawasan ini terancam keberlangsungan sebagai taman nasional. Sebagian besar warga yang tinggal di dalam kawasan TNTN mengganti hutan alam menjadi kebun sawit.

Pengelola TNTN menyebutkan, sekitar 5.000 hektare lahan taman nasional telah beralih fungsi dan memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM). Kemudian lebih dari 53.000 Ha hutan alam di kawasan tersebut sudah dirambah.

Di sisi lain, World Wildlife Fund for Nature (WWF) Riau mencatat, sejak 2004 hingga 2015, sudah terdapat 74 ekor gajah mati di sekitar taman nasional. (ant/sfa)