City Portal of Pekanbaru


Ganjilnya, Ketua DPRD tak tahu anggotanya terbang ke Inggris

kunker.jpg
(ist)

SEJUMLAH anggota Komisi E DPRD Riau, yang membidangi kesejahteraan rakyat, diam-diam terbang ke Inggris untuk studi banding.

Kepergian mereka ke luar negeri baru terendus melalui status maupun foto yang diunggah wakil rakyat dan staf yang mendampingi mereka di media sosial.

Ganjilnya, Ketua DPRD Riau Septina Primawati ketika ditanyakan hal tersebut mengaku tidak tahu keberangkatan anggotanya itu.

Meski begitu, ia mengatakan, jika ada anggota dewan yang berangkat ke luar negeri pasti sudah ada izinnya.

"Itu (kunjungan ke luar negeri) tidak diharamkan, apalagi sudah ada izinnya. Penganggarannya kan disetujui Kementerian Dalam Negeri. Tak mungkin berangkat-berangkat saja," kata dia, seperti dikutp dari Antara, Selasa (20/12).

Berdasarkan penelusuran salah satu akun Path anggota dewan, rombongan diketahui berangkat dari Jakarta, Sabtu sore, 17 Desember 2016. Mereka transit di Dubai, Uni Emirat Arab, pada Minggu, dan sampai di Manchester, Inggris, Minggu malam. Kemudian pada Senin (19/12) sampai di London.

Bukti keberangkatan mereka juga terlihat dari akun Facebook dan foto tampilan akun media sosial lainnya.

Komisi E yang diketuai Masnur ini beranggotakan sekitar 11 orang. Selain Masnur, mereka yang terbang ke Inggris disebut-sebut adalah Magdalisni, Ade Agus Hartanto, Tengku Nazlah Khairati, Muhammad Adil, Tenger Sinaga, dan Ramos Teddy Sianturi. Mereka dikabarkan didampingi beberapa staf Sekretariat DPRD Riau.

Salah seorang wakil rakyat coba dihubungi via pesan tidak membantah perihal kepergian mereka ke luar negeri.


Septina melanjutkan, anggaran studi banding ke luar negeri itu tersedia dan bisa digunakan setelah ada izin dari Kementerian Dalam Negeri.

Mengenai agenda keberangkatan sejumlah wakil rakyat ke Inggris, Septina mengaku tak tahu pasti. Yang jelas, kata dia, setiap komisi punya fungsi dan tugas masing-masing. "Bisa saja pendidikan atau pariwisata,” ujar istri mantan Gubernur Riau Rusli Zainal tersebut.

Dia meminta studi banding anggotanya ke luar negeri tidak dibesar-besarkan. “Kita kan bisa belajar pada negara-negara yang sudah maju. Melihat bagaimana kemajuan di sana bisa jadi masukan bagi dinas terkait dalam menjalankan program pembangunan daerah," paparnya. (sfa)