City Portal of Pekanbaru

Minta diperhatikan, gubernur ungkit sumbangan besar Riau untuk negara

gubernur-andi-rachman.jpg
(ist)

GUBERNUR Riau Arsyadjuliandi Rachman mengakui pembangunan di wilayah pesisir lebih tertinggal. Kendalanya lahan bergambut dan akses yang belum memadai.

Dia mengungkapkan, sebanyak 56,42 persen wilayah Riau merupakan lahan gambut. Sebagian besar berada di wilayah pesisir, dan itu cukup menyulitkan dalam pengembangan pembangunan.

"(Wilayah) Pesisir lebih tertinggal dalam pembangunan. Banyak masyarakat disana yang belum menikmati pembangunan," kata Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman di Pekanbaru, Selasa (20/12).

"Pembangunan berat karena mayoritas Riau punya lahan gambut, kemudian juga persoalan akses transportasi," imbuhnya.

Andi Rachman, begitu gubernur akrab disapa, meski provinsi punya mempunyai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) lebih dari Rp10 triliun setiap tahunnya, namun itu tidak sepenuhnya dapat memikul beban untuk menyejahterakan masyarakat.

"Riau ini sudah seperti Indonesia kecil. Semua suku dan agama ada di sini. Pertumbuhan penduduk cukup besar, sekitar tiga persen dari migrasi. Dari APBD tidak ada artinya karena yang kami tanggung cukup besar," sebutnya.

Untuk itu, Andi Rachman mengharapkan adanya perhatian lebih dari pemerintah pusat agar besarnya sumber daya alam (SDA) yang dimiliki Riau dapat berbanding lurus dengan perekonomian masyarakat.

Apalagi, kontribusi Riau cukup besar dalam menopang perekonomian Indonesia. Terutama dari produksi minyak sawit mentah (CPO) yang menyumbang sekitar 41 persen dari produksi nasional.

"Apa yang diberikan Riau cukup besar untuk nasional. Bukan hanya sektor perkebunan, sebelumnya ada minyak dan gas bumi pun memiliki sumbangsih yang besar. Di lain sisi kami juga butuh bantuan," paparnya.

Belum lagi persoalan perkembangan sektor perkebunan, khususnya di lahan gambut yang dihadapkan dengan isu kerusakan hutan dan lingkungan. Sehingga perlu dilakukan perbaikan sistem tata pengelolaannya.

"Sumber daya alam yang berlimpah ruah mulai dari minyak, tambang, komodititas perkebunan, kehutanan, pertanian serta kelautan perikanan semuanya dapat dioptimalkan dengan pengelolaan yang baik," tuturnya.

Dikatakan Andi Rachman, perkebunan merupakan sektor unggulan berdasarkan rencana pola ruang pada draf awal Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Riau. Dengan alokasi untuk kawasan perkebunan seluas 3,65 juta hektare atau 41 persen dari luas wilayah.

Sekarang ini lahan perkebunan kelapa sawit di Riau sudah 2,4 juta hektare. Paling luas di Indonesia, dari total luas kebun sawit nasional 10,01 juta hektare.

Selanjutnya ada kelapa yang menempati posisi nomor satu secara nasional. Lalu diikuti perkebunan karet produksi nomor empat dan sektor perkebunan lainnya seperti sagu, kopi dan pinang.

"Jadi sektor perkebunan menjadi pilar penggerak ekonomi di Riau, dimana 76 persen dari penduduk Riau hidup dari perkebunan," kata dia. (ant/sfa)