City Portal of Pekanbaru

Heboh bos bus NPM dipanggil dalam kasus makar, polisi: dia hanya saksi

bus-npm.jpg
(ist)

PEMANGGILAN pengusaha bus PO NPM yang berbasis di Padang Panjang, Sumatera Barat, Angga Vircansa Chairul, oleh Polda Metro Jaya menjadi heboh di dunia maya, terutam media sosial, karena ia akan diperiksa terkait kasus dugaan upaya penggulingan pemerintahan yang sah atau makar.

Bus PO NPM yang dikelola Angga ikut mengangkut massa yang akan mengikuti aksi super damai Bela Islam Jilid III di kawasan Monas, Jakarta, 2 Desember 2016 lalu.

Dalam surat pemanggilan yang beredar di media sosial, Angga dipanggil sebagai saksi karena terdapat transaksi sewa bus antara PO NPM Mananti miliknya kepada para peserta aksi super damai 212 dari Sumatera ke Jakarta.

Sontak hal itu menuai protes Ketua Umum DPP FPI Ahmad Sobri Lubis. Ia mengatakan, pemanggilan Angga sebagai bentuk arogansi aparat kepolisian. Ia menilai pemanggilan itu bentuk tidak profesionalismenya Polri.

“Ini sudah arogan polisi, ia menafsirkan orang dengan makar perlu dipertanyakan mereka profesional atau tidak,” tegas Sobri, seperti dikutip dari kriminalitas.com, Minggu (25/12).

Sobri menilai tindakan tersebut merupakan tindakan represif yang dilakukan kepolisian. Dia juga menyebut Presiden Jokowi sudah kehilangan muka sehingga menggunakan cara tak masuk akal.

“Sopir bus dipanggil kan ini enggak masuk akal,” kata dia.

Sobri memastikan FPI akan mengawal dan melakukan pembelaan kepada Angga yang akan diperiksa oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya pada Rabu (28/12) nanti.

“Kita akan kawal pembelaan itu pasti, dan Insya Allah ada di sana,” tambahnya.

Sekretaris Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Pedri Kasman juga angkat bicara. Menurut Pedri, apa yang dilakukan Angga konteksnya adalah bisnis semata karena ia akan mengangkut massa untuk ikut aksi super damai 212 di Monas. Bukan akan membawa mereka ke Gedung DPR untuk melakukan makar.

“Pemilik bus posisinya jelas, dalam konteks bisnis semata. Aparat tidak boleh melarang itu,” kata dia.

Pedri berharap Angga memenuhi panggilan tersebut dan menjelaskan jika apa yang dilakukannya tak ada kaitannya dengan aksi makar.

“Jika nanti dijadikan tersangka, patut diduga itu bagian dari kriminalisasi,” tegas Pedri, yang juga merupakan salah satu pelapor kasus penistaan agama terhadap Gubernur DKI Jakarta nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

“Negara harus melindungi pelaku usaha riil yang hidup di masyarakat dan bukan malah mengkriminalisasi mereka,” lanjut Pedri.

Berstatus saksi

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono menjelaskan, Angga diminta hadir pada 28 Desember 2016 ke Polda Metro Jaya karena dianggap memiliki informasi terkait makar. Dalam surat Panggilan bernomor S.Pgl./23174/XII/Ditreskrimum, ia diminta hadir pukul 10.00 WIB.

Angga bakal diperiksa di Gedung Ditreskrimum Polda Metro Jaya pada Rabu nanti.

"Itu (Angga) akan diperiksa sebagai saksi terkait kasus makar, rencana akan diperiksa tanggal 28 (Desember)," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono, seperti dikutip dari republika.

Argo mengatakan, nantinya Angga bakal diperiksa teriait apakah massa aksi 212 yang dibawa ke Jakarta tersebut dikerahkan untuk makar atau tidak. Hal itu bertujuan untuk mengungkap kasus makar yang diduga dilakukan oleh Rachmawati Soekarnoputri dkk.

"Dia (Angga) tidak terlibat. Statusnya kan saksi, nanti ditanyakan berapa bus yang dibawa dan berapa penumpang yang dibawanya. Dia sebagai saksi saja," kata Argo.

Seperti diketahui, jelang aksi damai 2 Desember 2016 di Monas itu, polisi melakukan penangkapan sejumlah tokoh yang diduga hendak menunggangi aksi untuk makar. Termasuk di antaranya dua mantan jenderal. (sfa)