City Portal of Pekanbaru

Remaja 16 tahun hamil, disetubuhi ayah dan kakak kandung sendiri!

tindak-kekerasan-seksual.jpg
(ist)

MALANG betul nasib gadis asal Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, ini. Ia hamil delapan bulan setelah disetubuhi oleh ayah dan abang kandungnya sendiri secara bergilir.

Remaja berinisial SA itu baru berusia 16 tahun. Ia merupakan Kelurahan Seberang Tembilahan Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil).


Paur Humas Polres Inhil Ipda Heriman Putra mengemukakan, tindakan bejat itu dilakukan oleh ayah kandung berinisial RA, usia 50 tahun, dan kakak kandung berinisial AR, usia 18 tahun. Polisi menahan mereka setelah menerima laporan resmi dari pihak keluarga yang merupakan abang angkat dan paman korban.

"Keduanya dilaporkan telah menyetubuhi hingga hamil SA yang merupakan anak kandung dan adik kandung dari kedua laki-laki bejat tersebut,” kata Ipda Heriman Putra, Kamis (29/12)..

Peristiwa memalukan kedua laki-laki ini terbongkar setelah abang angkat SA pada Rabu (28/12) mendapat informasi bahwa korban saat ini dalam keadaan hamil.

Mendengar berita, keesokan harinya, abang angkat yang merupakan warga Parit 10 Kecamatan Tembilahan Hulu, mendatangi SA. Ia menanyakan kebenaran informasi tersebut kepada SA. Pada saat itu pula remaja 16 tahun itu mengakui bahwa dirinya memang hamil begitu juga penyebab kehamilannya, disetubuhi ayah kandunga dan kakak kandung.

Berdasarkan laporan, Kasat Reskrim Polres Inhil AKP Arry Prasetyo memerintahkan Tim Opsnal Sat Reskrim Polres Inhil untuk melakukan penyelidikan. Ayah dan kakak bejat itu saat itu juga ditahan setelah diinterogasi di rumahnya.

Ipda Heriman Putra menjelaskan, dari interogasi kedua pelaku, si ayah bejat mengakui telah menyetubuhi putrinya sebanyak tiga kali yang dilakukan pada bulan Juni 2016. Sedangkan si kakak bejat mengakui telah menggarap adiknya sebanyak 10 kali yang terjadi pada bulan Mei 2016.

Saat ini, kedua pelaku telah diamankan di markas Polres Inhil untuk proses penyidikan lebih lanjut.

Atas peristiwa tersebut, kedua pelaku diancam dengan pasal 81 UU Perlindungan Anak No. 35 Tahun 2014, peralihan dari UU No. 23 Tahun 2002 dengan hukuman maksimal 15 tahun penjara. (ant/sfa)