City Portal of Pekanbaru

Vonis Caca Gurning si pembunuh prajurit Kostard diperberat menjadi 12 tahun

caca-gurning.jpg
(saturiau.com)

CACA Gurning mesti lebih lama merasakan pengapnya penjara, karena hukumannya dalam kasus pembunuhan tentara diperberat oleh Pengadilan Tinggi Pekanbaru menjadi 12 tahun.

Pria yang tersangkut dalam sejumlah kasus kekerasan itu merupakan otak pelaku pembunuhan Kopda Dadi Santoso, anggota Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad), Oktober 2015.

Padahal saat itu Dadi ditugaskan ke Riau untuk membantu penanganan korban bencana kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang mendera masyarakat hampir tiga bulan.

"Berdasarkan salinan putusan banding dari PT Pekanbaru, hukuman (Caca Gurning) naik menjadi 12 tahun penjara," kata Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Pekanbaru, Sukatmini di Pekanbaru, Jumat (30/12).

Ia mengatakan pihaknya telah menerima salinan putusan tersebut dari PT Pekanbaru melalui Pengadilan Negeri Pekanbaru.

Pertengahan November 2016 lalu, majelis hakim Pengadilan Negeri Pekanbaru memvonis Caca Gurningdengan hukuman kurungan sembilan tahun penjara. Hukuman itu jauh lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yakni 15 tahun penjara.

Atas putusan itu, JPU mengajukan banding hingga PT Pekanbaru memutuskan memperberat hukuman tersebut.

Mengenai putusan Pengadilan Tinggi Pekanbaru itu, Sukatmini menyatakan masih pikir-pikir mengajukan kasasi atas hukuman itu ke Mahkamah Agung (MA) RI di Jakarta. "Hukuman itu masih di bawah tuntutan kita," kata Sukatmini.

Pada 26 Oktober 2015 lalu, anggota Kostrad bernama Kopda Dadi Santoso yang bertugas pada Tim Kesehatan Penanggulangan Bencana Kabut Asap Riau ditemukan tewas di Komplek MTQ Jalan Jenderal Sudirman Pekanbaru.

Belakangan diketahui Kopda Dadi, yang diperbantukan bersama ribuan tentara lainya ke Riau, meninggal dunia karena ditabrak dengan sengaja menggunakan mobil yang dikemudikan Andi Firmansyah. Dalam kasus ini, Andi merupakan sopir. Sementara yang menyuruh Andi menabrak Kopda Dadi adalah Caca Gurning, yang ada di dalam mobil tersebut.

Padahal pada diri hari itu Kopda Dadi berusaha melerai keributan antara Caca dengan sekelompok pemuda lainnya.

Akibat tabrakan tersebut, Kopda Dadi mengalami luka serius terutama pada bagian kepala dan meninggal dunia di tempat kejadian.

Andi ditangkap di Bengkulu tidak lama pasca-peristiwa tersebut. Sementara, Caca Gurning buron berbulan-bulan. Ia akhirnya diringkus pada Mei 2016 di salah satu tempat persembunyiannya di Pekanbaru.

Sebelumnya Caca Gurning terlibat dalam sejumlah kasus hukum, yang umumnya terkait kekerasan. Namanya juga disebut-sebut terdakwa sebagai otak pembunuhan ayahnya, yang seorang pengusaha, meski tidak terbukti. (ant/sfa)