City Portal of Pekanbaru

Ketua DPRD pilih bungkam saat diserahkan polisi ke kejaksaan

heru-wahyudi.jpg
(ist)

MENGENAKAN baju tahanan, tersangka kasus dugaan korupsi dana bantuan sosial (Bansos) Bengkalis, Heru Wahyudi, diserahkan penyidik kepolisian ke Kejaksaan Tinggi Riau di Pekanbaru, Rabu (4/1) sore. Ketua DPRD Bengkalis itu memilih bungkam.

Penahanan tersebut dilakukan setelah penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau melimpahkan tersangka dan berkas perkaranya.

"Mulai saat ini sudah resmi tahap penuntutan. Insya Allah tidak lama lagi akan kami limpahkan ke Pengadilan (Tindak Pidana Korupsi Pekanbaru)," kata Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Riau, Sugeng Riyanta, kepada wartawan.

Kasus korupsi dana bansos Bengkalis bisa disebut korupsi berjamaah, karena melibatkan banyak pihak, seperti wakil rakyat dan pejabat pemerintahan. Kasus ini juga menyeret mantan Bupati Bengkalis, Herliyan Saleh, yang kini menghuni penjara setelah divonis bersalah.

Modus korupsi yang dilakukan para tersangka adalah memotong dana Bansos yang seharusnya diterima oleh masyarakat.

Dalam dakwaan jaksa, terdapat lebih dari 4.000 proposal yang diajukan oleh pemohon untuk menerima bantuan. Setiap proposal mengajukan dana kegiatan masyarakat berkisar Rp20 hingga Rp60 juta. Kemudian diketahui sejumlah anggota DPRD Bengkalis, termasuk yang sudah diproses maupun yang masih sebatas disebutkan dalam dakwaan, ‘memegang’ puluhan hingga ratusan proposal dengan nominal yang berbeda

Sugeng menjelaskan perkara yang menjerat Heru merupakan perkara yang sama yang sebelumnya juga ditangani Polda Riau dan turut dilimpahkan ke Kejati Riau.

"Perkara Heru Wahyudi ini kan perkara yang terkait dengan perkara yang lama. Ada (mantan) Bupati (Bengkalis) Herliyan Saleh dan kawan-kawan, dan Jamal Abdillah. Prosesnya masih terus berlanjut," kata dia.

Heru Wahyudi ditahan Polda Riau pekan lalu, setelah sempat dua kali tak memenuhi panggilan penyidik. Ia merupakan satu-satunya tersangka dalam kasus ini yang belum disidang.


Kasus korupsi berjamaah ini menyebabkan kerugian negara hingga Rp31 miliar. Kerugian negara itu berdasarkan perhitungan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Riau.

"Khusus untuk Heru Wahyudi, berdasarkan alat bukti diperoleh fakta hukum menikmati kurang lebih Rp370 juta," jelas Sugeng.

Selain Heru, tujuh tersangka lainnya adalah mantan Bupati Bengkalis Herliyan Saleh dan Kepala Bagian Keungan Kabupaten Bengkalis Azrafiani Aziz Rauf. Selanjutnya lima tersangka lainnya dari kalangan wakil rakyat Bengkalis periode 2009-2014, yakni Rismayeni, Muhammad Tarmizi, Hidayat Tagor, Purboyo dan Jamal Abdillah.

Jamal Abdillah, mantan Ketua DPRD Bengkalis pada periode itu, dihukum delapan tahun penjara, dicabut hak politiknya selama 10 tahun, dan membayar kerugian negara.

Selanjutnya, Rismayeni, Muhammad Tarmizi, Hidayat Tagor, dan Purboyo masing-masing dua tahun penjara. Terakhir Herliyan Saleh dan Azrafiani Aziz Rauf divonis bersalah dengan pidana satu tahun enam bulan penjara. (ant/sfa)