City Portal of Pekanbaru


Rocky Gerung ngetop, lantang sebut pemerintah Jokowi pembuat berita hoax terbaik

rocky-gerung.jpg
(ist)


JAKARTA - Rocky Gerung ramai diperbincangkan publik, bahkan terus menjadi trending topic di Twitter sampai Rabu (18/1/2017) siang. Penyebabnya sudah pasti adalah suaranya yang lantang mengeritik pemerintahan Jokowi.

Dosen Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI) Rocky Gerung bahkan mengatakan, pembuat berita bohong (hoax) terbaik adalah pemerintah yang sedang berkuasa!

Itu disampaikannya saat tampil di acara Indonesian Lawyer Club (ILC) di tvOne, Selasa (17/1/2017) malam. Dalam acara diskusi meja bundar yang dipandu jurnalis kawakan Karni Ilyas itu, Rocky menyebut pemerintah Jokowi sedang panik.

"Kita mencium ada semacam kepanikan di dalam rezim ini. Orang panik biasanya ingin cari pegangan apa saja. Kayak orang hanyut, dia mau raih apa saja. Entah itu kaleng bekas hanyut, batang pohon. Jadi kepanikan menunjukkan ada krisis, sebenarnya,” begitu cuplikan pernyataan Rocky.

Bahkan kata Rocky, rezim Jokowi ingin mengendalikan kebenaran sesuai dengan standarnya.

"Artinya ada kebohongan yang hendak disembunyikan," lanjut Rocky.

Maka dari itu, Rocky pun menyimpulkan pembuat berita bohong (hoax) terbaik adalah pemerintah yang sedang berkuasa. Pasalnya penguasa memiliki seluruh peralatan untuk berbohong baik itu intelijen, data statistik dan media.

"Hanya pemerintah yang mampu berbohong secara sempurna,” kata Rocky.

Soal mengendalikan kebenaran, Rocky menyinggung soal reaksi Presiden Jokowi yang menuding buku "Jokowi Undercover" tidak ilmiah. Menurut Rocky yang berhak menentukan sebuah buku itu ilmiah atau tidak adalah kampus. Sementara buku tersebut justru dilarang dibahas di kampus untuk mengetahui ilmiah atau tidaknya.

"Bagaimana kita bisa menentukan itu tidak ilmiah sedangkan buku itu dilarang dibahas di kampus," tegas Rocky

Karena itu, dia menganggap pernyataan presiden tersebut sebagai hoax yang menjalar dari pemerintah. “Jadi Anda lihat bahwa, bahkan presiden menyebar hoax itu. Dari sudut pandang definisi lho,” kata Rocky disambut tepuk tangan.

Dia juga mencontohkan bagaimana sebuah statistik berbohong secara definisi. Menurut dia, pernyataan Cagub Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam debat kandidat pertama bisa dikatakan hoax. Saat itu, Ahok menyatakan Jakarta human development index tertinggi se-Indonesia dua tahun berturut-turut. Oleh karena itu Ahok dapat award empat kali.

"Sebagai fakta benar, tetapi sebagai pesan politik, itu adalah hoax. Karena enggak ada gunanya menyebut itu karena sejak 10 tahun lalu, 15 tahun lalu, Jakarta selalu di atas memang,” kata Rocky.

Presiden Indonesia Lawyer Club (ILC) Karni Ilyas bahkan sampai kaget dengan tajamnya kritikan Rocky Gerung. Padahal awalnya, Karni mengaku sengaja mengundang pengajar di Universitas Indonesia (UI) itu setelah membaca tulisannya yang mengkritik pemerintah dengan lembut.

"Ternyata lebih keras dari tulisannya," kata Karni dengan gaya khasnya dalam acara yang bertema Hoax tersebut.

Lakukan perubahan

Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah, melontarkan pendapatnya terkait isu hoax yang kini santer di kalangan masyarakat. Menurutnya, agar hoax tidak berkembang dan memicu kegelisahan, pemerintah harus melakukan perubahan.

Salah satu contohnya adalah membuat struktur percakapan publik yang akan disampaikan kepada masyarakat. Sebab, ketidakselarasan dalam penyampaian pesan bisa membuat pemberitaan yang simpang siur.

"Saya kira, yang penting adalah menstruktur percakapan publik. Ini mungkin yang penting saya sampaikan. Saya pernah ketemu Pak Menteri (Menkominfo Rudiantara), kita tidak mau menjadi Harmoko seperti pada zaman ketika hanya ada satu sumber kebenaran," ujar Fahri dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) di tvOne, Selasa malam.

Fahri juga merujuk dari perkataan Rocky Gerung, yang mengatakan bahwa Presiden bisa saja menjadi sumber hoax. Itu lantaran presiden terkadang disuguhi data tidak benar oleh anak buahnya.

"Kalau disinyalir dari ucapan Bung Rocky, Presiden itu sumber hoax. Presiden tidak tahu bahwa ada tarif naik, Presiden disuguhi data bohong oleh anak buahnya dan dia sampaikan begitu saja,” ungkapnya.

Dia menuturkan, para menteri pun memiliki pandangan yang berbeda-beda dalam menyampaikan informasi.

Fahri mencontohkan, Menteri Tenaga Kerja mengatakan bahwa tenaga kerja asing mencapai 78 ribu di Indonesia. Sedangkan Presiden menyebut hanya 21 ribu.

“Untuk itu, saya mengusulkan Juru Bicara presiden berbicara. Karena kalau tidak bicara, orang lain akan berbicara, karena ada kebebasan berbicara. Marilah kita strukturkan sumber percakapan bangsa ini. Itu yang kita perlukan saat ini, karena hoax itu tidak ada strukturnya," ujarnya. (rmol/viv/rpblk/sfa)