City Portal of Pekanbaru

Donald Trump diramal George Soros bakal jatuh

trump-donald.jpg
(ist)

DAVOS - Semakin banyak saja suara miring ditujukan kepada Donald Trump jelang pelantikannya sebagai Presiden Amerika Serikat ke-45 di Washington DC, Jumat (20/1/2017) waktu setempat. Kali ini kritikan datang dari investor kawakan, George Soros.

George Soros mengatakan, pasar global akan goyah karena ketidakmenentuan yang muncul dari kebijakan-kebijakan Donald Trump, yang tergambar dari beberapa pernyataannya.

"Saat ini ketidakmenentuan sudah berada pada puncaknya," kata Soros kepada Bloomberg News dalam makan malam bersama media tahunannya pada Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Kamis (19/1/2017). "Saya tak menganggap pasar akan baik-baik saja."

Harga saham di Amerika Serikat melonjak setelah Trump memenangi Pemilu 8 November 2016 silam. Trump sendiri akan mengucap sumpah jabatan Jumat ini waktu Amerika Serikat.

"Pasar melihat Trump tengah bongkar pasang aturan-aturan dan memangkas pajak, dan itu semua memang impian. Impian itu telah terwujud," kata Soros.

Baca Juga: Dilantik Jumat, inilah bisnis Donald Trump di Indonesia

Tetapi Trump telah menyerukan pajak perbatasan (impor) dan menarik diri dari kesepakatan perdagangan Kemitraan Trans Pasifik yang digagas para pendahulunya, yang merupakan di antara kebijakan politik lainnya dari dia yang tidak ada juntrungannya dengan pertumbuhan ekonomi AS, kata Soros.

"Mustahil memprediksi bagaimana yang sebenarnya Trump akan melangkah," kata dia seperti dikutip Reuters.

Soros yang mendirikan Soros Fund Management LLC dan kini memimpin perusahaan yang berbasis di New York itu, adalah penyumbang besar untuk kelompok penggalangan dana Super PAC yang mendukung calon presiden dari Partai Demokrat Hillary Clinton. Selain menyumbang kelompok-kelompok lain pendukung Demokrat.

Secara umum, Soros menganggap Trump, "Saya pribadi yakin dia akan jatuh. Bukan karena orang seperti saya menginginkan dia jatuh. Tetapi karena gagasan-gagasannya yang membuat dia sendiri secara inheren kontradiktif dan kontradiksi ini telah benar-benar terwujud dari para penasihatnya dan kabinetnya."

Klik Juga:Segera dilantik, Trump bikin 7 negara ini was-was

Demikian pula dengan Inggris Raya, Soros juga tidak yakin Perdana Menteri Theresa May akan terus bertahan mengingat ada perpecahan luas dalam pemerintahannya.

Selasa lalu May menjabarkan rencana Inggris untuk menegosiasikan langkah keluar negara ini dari Uni Eropa, yang dikenal Brexit. Soros mengatakan proses itu akan panjang dan "perceraian yang pedih" akan merugikan baik Inggris Raya maupun Uni Eropa.

Soros terkenal menarik untung besar pada 1992 ketika dia berspekulasi bahwa poundsterling Inggris akan jatuh jauh di bawah level normalnya saat itu dan harus menarik diri dari Mekanisme Tingkat Mata Uang Eropa.

Mengenai China, Soros menggapa China memiliki kepentingan dalam Eropa yang bersatu karena pentingnya blok ini sebagai pasar ekspornya.

Dia mengatakan Presiden China Xi Jinping yang menjadi pemimpin China pertama yang menghadiri Forum Davos, dapat mengantarkan negaranya baik ke arah masyarakat yang lebih terbuka maupun ke arah masyarakat yang lebih tertutup, demi mempertahankan model pertumbuhan ekonomi yang lebih sinambung.

"Trump harus berbuat lebih banyak untuk menjadikan China diterima sebagai anggota utama komunitas internasional ketimbang yang bisa dilakukan China untuk dirinya sendiri," kata Soros. (rtr/ant/sfa)