City Portal of Pekanbaru


Publik AS kurang antusias sambut pelantikan Donald Trump

perbandingan.jpg
(vox)

WASHINGTON DC - Pertanyaan umum dari rakyat Amerika Serikat (AS), seperti apa antusiasme publik menyambut pelantikan Presiden Donald Trump dibandingkan saat pelantikan pendahulunya, Barrack Obama, delapan tahun lalu, terjawab sudah.

Ternyata, publik AS lebih penuh antuasiasme kepada Obama di tahun 2009.

Public Broadcasting Service (PBS) sebagai jaringan televisi penyiaran publik yang beranggotakan 345 stasiun televisi di 50 negara bagian AS melansir dua foto untuk membandingkan antusiasme publik AS saat pelantikan Obama di periode pertamanya sebagai Presiden AS pada 20 Januari 2009 dengan momen yang sama bagi Presiden Donald Trump di hari Jumat, 20 Januari 2017.

Dua foto yang disajikan PBS adalah satu dokumen foto Reuters saat pelantikan Presiden Barrack Obama, yang disandingkan dengan rekaman kamera tayangan langsung TV Pool lembaga penyiaran publik AS itu, hanya beberapa menit jelang Presiden Donald Trump mengucapkan sumpah jabatan sebagai Presiden ke-45 AS.

Awal pekan ini panitia penyelenggara pelantikan DonaldTrump mengatakan bahwa mereka memperkirakan sekitar 800.000 orang untuk hadiri perayaan pelatikan Presiden ke-45 AS itu di National Mall, Washington DC.

"Kini antusiasme publik kurang setengah dari 1,8 juta orang yang hadir saat pelantikan pertama Presiden Barack Obama pada 2009," demikian pernyataan panitia pelantikan Presiden AS.

Pendobrak

Donald John Trump meraih kemenangan dalam pemilihan umum pada Rabu, 9 November 2016, sehingga terpilih sebagai Presiden ke-45 Amerika Serikat (AS). Itu sebuah kemenangan menakjubkan bagi seorang pengusaha selebriti dan politisi pemula seperti Trump.

Kandidat Partai Republik itu mendobrak dominasi Partai Demokrat, yang menempatkan Presiden Barrack Obama memimpin AS selama dua periode. Trump meraih suara mayoritas menentukan di Pennsylvania dan Wisconsin, yang merupakan negara-negara bagian yang tidak memilih kandidat presiden Partai Republik sejak 1980-an.

Trump memerlukan kemenangan di hampir semua negara yang diperebutkan, dan dia berhasil melakukannya. Mengklaim suara mayoritas di Florida, Ohio, North Carolina dan beberapa negara bagian AS lainnya.

Setelah berhasil menang dalam pemilihan presiden AS yang berlangsung lama dan sengit melawan Hillary Clinton, mantan Ibu Negara AS, Trump merengkuh kejayaannya tidak hanya dipenuhi dengan dukungan dan sorakan kegembiraan. Namun juga diwarnai dengan aksi protes dari berbagai kalangan.

Bahkan, pelantikan Trump sebagai presiden baru AS pun diwarnai oleh gelombang aksi unjuk rasa di dalam negeri dan luar negeri.

Kalangan aktivis liberal penentang Donald Trump di Washington, Ju bentrok dengan polisi setelah mereka berupaya menghadang para pendukung Trump, yang akan menghadiri upacara pengukuhan tokoh Partai Republik itu sebagai Presiden AS.

Lebih dari 90 orang ditahan oleh polisi dalam aksi protes anti-Trump di Washington D.C.

Unjuk rasa anti-Trump juga muncul di Jepang. Ratusan orang, sebagian besar pekerja asal AS, pada Jumat melancarkan unjuk rasa di ibu kota negara Jepang, Tokyo, untuk menentang Donald Trump, beberapa jam sebelum ia dilantik di Washington DC.

Walaupun demikian, Trump menjalani proses pemindahan kekuasaan pemerintahan AS dari Presiden Barack Obama secara damai dan lancar.

Donald Trump secara resmi dilantik sebagai Presiden ke-45 AS di Capitol Hill, yakni gedung dewan perwakilan rakyat AS di Washington D.C. Proses pelantikan tersebut dilakukan oleh Ketua Mahkamah Agung AS John Glover Roberts Jr.

Sebelum Trump dilantik, Mike Pence dilantik terlebih dahulu menjadi Wakil Presiden AS.

Selanjutnya, Donald John Trump dilantik dengan tangan diletakkan di atas kitab suci Injil yang biasa digunakan keluarganya, dan dengan satu lainnya yang digunakan dalam pelantikan Presiden ke-16 Abraham Lincoln. Trump mengucapkan sumpah di hadapan John Roberts dan di depan warga Amerika.

Setelah menjalani upacara pengambilan sumpah, yang berlangsung di Gedung Capitol, sosok yang tidak memiliki pengalaman pemerintahan ataupun militer itu resmi menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.

Acara pelantikan tersebut dihadiri oleh keluarga Trump dan beberapa mantan Presiden AS. Salah satunya mantan Presiden AS Bill Clinton yang bersama dengan istrinya, Hillary Clinton. Inilah tradisi Amerika yang masih terus berlanjut dalam proses pelantikan Presiden AS.

Setelah resmi dikukuhkan, Donald Trump menyampaikan pidato pertamanya sebagai Presiden ke-45 AS sambil diiringi hujan ringan.

Selain berbicara mengenai kebijakan protektif, yang ia sebut American First (mendahulukan kepentingan AS di dalam dan luar negeri), Presiden Trump dalam pidatonya juga sempat mengkritik para politisi yang dinilai cenderung lebih banyak berbicara daripada bertindak, sehingga kini di masa pemerintahannya adalah saatnya untuk beraksi.

"Para politisi hidup makmur, tetapi kemenangan mereka belum menjadi kemenangan Anda. Masih banyak keluarga yang bersusah-payah di seluruh negeri kita," ujarnya.

Ia menegaskan pula, "Waktu untuk omong kosong sudah selesai, sekarang saatnya untuk beraksi. Jangan biarkan siapa pun untuk berkata bahwa kita tidak bisa melakukannya. Kita tidak akan gagal. Negara kita akan maju dan bangkit lagi."

Dalam pidato pelantikannya itu, Trump juga kembali menyebutkan slogan "Make America Great Again" (Menjadikan Amerika Hebat Kembali) yang selama ini dia pakai dalam kampanye pemilihan presiden.

"Untuk semua warga Amerika di berbagai kota, kalian tidak akan pernah diabaikan lagi. Suara kalian didengar dan impian kalian akan menentukan tujuan bersama Amerika. Kita akan menjadikan Amerika kuat lagi, Amerika makmur lagi, Amerika aman lagi, dan ya bersama kita akan menjadikan Amerika hebat kembali," demikian Donald Trump. (rtr/ant/sfa)