City Portal of Pekanbaru


Bupati Irwan Nasir mangkir, beralasan ada kegiatan di Jakarta

irwan-nasir.jpg
(ist)

PEKANBARU - Beralasan ada kegiatan di Jakarta, Bupati Kepulauan Meranti Irwan Nasir mangkir di sidang tindak pidana korupsi di Pengadilan Negeri Pekanbaru, Senin (23/1/2017). Seharusnya ia bersaksi sidang dugaan korupsi hibah kepada Yayasan Meranti Bangkit pada tahun 2011 untuk membentuk perguruan tinggi.

"Kami sudah menghubungi, dia ada kegiatan di Jakarta, Senin, jadi tidak hadir. Kita undang secara hukum dia harus menjawabnya, kalau tidak ada aral melintang dia harusnya datang," kata Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Meranti, Roy Modino, di Pekanbaru.

Hakim Ketua Marsudin Nainggolan dalam sidang mempertanyakan jadwal bupati bersaksi kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) karena dirasa perlu. Hakim kemudian meminta JPU menghadirkannya Kamis mendatang, akan tetapi tidak bisa menyanggupiny, karena telah menjadwalkan pemanggilan kembali pada Senin (30/1) pekan depan.

Lebih lanjut, Roy menegaskan bahwa porsi kesaksian Bupati dalam perkara ini sepenuhnya yang menilai hakim."Kita menghadirkan, ya nanti hakimlah yang menilai," tuturnya.

Pada sidang Senin ini, 12 saksi dihadirkan. Salah satunya mantan Wakil Bupati Meranti, Masrul Kasmi. Pada 2011 lalu ia berpasangan dengan Irwan Nasir, yang kembali menjadi bupati pada 2015 lalu.

Kasus ini menjerat dua orang terdakwa, Prof Dr Yohanes Umar, selaku Dewan Pembina Yayasan Meranti Bangkit, dan H Nazaruddin MD selaku Ketua Yayasan Meranti Bangkit.

Sementara itu kuasa Hukum terdakwa Prof.Dr. Yohanes Umar, Rony Sihotang mengungkapkan jika proposal pengajuan dari Yayasan Meranti Bangkit kepada Pemkab Meanti sebesar Rp 1,7 miliar lebih disetujui oleh Bupati Irwan Nasir sebesar Rp 800 Juta.

"Dana ini tidak pernah masuk ke rekening pribadi klien kami. Ini masuk ke rekening yayasan yang dibuka oleh terdakwa Nazarudin," sebutnya.

Ia melihat ada kejanggalan dalam perkara ini. Ini terkait dengan pernyataan saksi anggota tim sekretariat daerah dan tim verifikasi proposal yang tidak mengetahui adanya Surat Keputusan (SK) Bupati yang mengangkat kliennya sebagai tim verifikasi.

"Selanjutnya, tim verifikasi tidak mengetahui adanya proposal yang masuk atas nama Yayasan Meranti Bangkit. Bagaimana mungkin sebagian besar tim verifikasi tidak mengetahui adanya proposal yayasan tetapi pada akhirnya ada dana yang turun dari Pemkab Meranti," kata dia mempertanyakan.

Dia juga menilai kesaksian Irwan Nasir sangatlah penting. Itu karena dalam kesaksian sidang sebelumnya mantan Sekretaris Daerah Pemkab Meranti, Zubriarsyah, menyebut persetujuan pencairan proposal dilakukan oleh Bupati Irwan Nasir.

Masrul dicecar

Sementara mantan Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Masrul Kasmi, dicecar Hakim Ketua, Marsudin Nainggolan. Namun Masrul Kasmi banyak menjawab tidak tahu terkait pengalokasian dana hibah tersebut karena propioalnya ditujukan ke Bupati, Irwan Nasir.

"Setahu saya proposal itu ditujukan kepada Bupati," dia.

Masrul mengaku hanya mengetahui jika pembentukan Perguruan Tinggi oleh Yayasan Meranti Bangkit saat audiensi sejumlah pengurus yayasan. Ia menerima sejumlah pengurus Yayasan Meranti Bangkit kala itu karena Bupati Irwan Nasir tidak ada di Meranti.

"Waktu itu audiensi ada keinginan membentuk universitas Meranti. Kami Pemkab berkomitmen. Karena memang kita rasakan belum hadir universitas yang layak di Meranti, kami mendukung," ujarnya.

Hal ini lantas membuat hakim mempertanyakan tugas dan tanggungjawabnya sebagai wakil bupati saat itu. "Apakah tidak tercatat rencana anggaran itu? Masak iya, ini kabupaten loh. Nomenklatur hibah ada tidak ? Yang benarlah, masak tidak ada nomenklaturnya," ujar hakim.

Semua pertanyaan itu dijawab dengan tidak tahu. "Tidak tahu Yang Mulia," jawab Masrul.

Selain Masrul, 11 saksi juga dihadirkan dalam sidang ini diantaranya adalah sejumlah pegawai negeri sipil di Pemkab Meranti. (ant/sfa)