City Portal of Pekanbaru

Pelapor Ahok: saya orang Sidempuan tak urusan dengan Pilkada DKI

sidang-ahok.jpg
(ist)

JAKARTA - Sidang ketujuh kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Selasa (24/1/2017), menghadirkan lima saksi. Termasuk Muhammad Asroi Saputra, yang membantah berafiliasi dengan salah satu pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

Asroi sendiri merupakan salah satu pelapor Ahok ke kepolisian terkait pernyataannya mengenai Surat Al Maidah ayat 51 di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, September 2016, yang dinilai menistakan agama Islam dan menghina para ulama.

Bantahan itu disampaikan Asroi terkait foto yang diunggahnya bersama teman-teman di akun Facebook dengan mengacungkan satu jari. Foto itu dipermasalahkan oleh tim kuasa hukum Ahok dalam persidangan.

"Tidak, tidak ada kaitannya dengan Pilkada (DKI Jakarta). Itu kan simbol tauhid, la ilaha illallah, Tiada Tuhan Selain Allah," kata Asroi dalam persidangan yang digelar di auditorium Gedung Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan.

Asroi pun menyatakan bahwa dirinya adalah seorang penduduk asli Padang Sidempuan, Sumatera Utara, sehingga tidak ada kepentingan sama sekali dengan pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta.

"Saya asli Padang Sidempuan, tidak ada kaitan dengan pilkada-pilkada," kata Asroi yang mengaku sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di kampung halamannya.

Dalam kasus ini, Ahok dijerat dengan dakwaan alternatif yakni Pasal 156a dengan ancaman 5 tahun penjara dan Pasal 156 KUHP dengan ancaman 4 tahun penjara.

Lurah bilang tak tahu ada penodaan agama

Sementara kesaksian Lurah Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, Yuli Hardi meringankan terdakwa. Ia mengatakan tidak mengetahui telah terjadi penodaan agama yang dilakukan Ahok saat berpidato di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016.

Yuli Hardi hadir dalam acara tersebut. "Jujur saat Pak Basuki pidato saya tidak tahu (telah terjadi penodaan agama) baru tahu saat-saat ini dari televisi dan Youtube," kata Yuli Hardi menjawab pertanyaan jaksa penuntut umum (JPU).

Dia pun menceritakan bahwa dirinya juga menjemput Ahok saat datang ke Kepulauan Seribu tersebut.
"Saya hadir jemput Pak Ahok di dermaga. Tidak ada reaksi keberatan saat itu dari warga," kata Yuli Hardi.

Namun, setelah berita kasus penodaaan agama itu, ia menyatakan ada beragam pendapat dari warga. "Macam-macam ada yang pro, ada yang kontra dan ada juga yang cuek," ucap Yuli Hardi.

Dia mengungkapkan, penyidik Bareskrim Polri datang langsung ke Kepulauan Seribu untuk memeriksa dirinya. "Bareskrim langsung datang ke Pulau, saya lapor ke atasan dulu. Tidak ada arahan dalam pemeriksaan," kata dia.

Selain Yuli Hardi, jaksa juga menghadirkan Nurkholis, petugas Humas Pemprov DKI Jakarta yang merekam pidato Ahok di Kepulauan Seribu yang dipermasalahkan itu. (ant/sfa)