City Portal of Pekanbaru


BNPB sediakan dua heli padamkan kebakaran lahan di Riau

helikopter.jpg
(ist)

PEKANBARU - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan menyediakan dua helikopter untuk water bombing (pemadaman dari udara), sebagai antisipasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Riau. Semen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyiapkan satu helikopter untuk patroli.

"Akhir bulan ini pihak kami akan menyediakan dua unit helikopter water bombing untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan di wilayah yang sulit dijangkau. Selain itu Kementerian LHK juga menyediakan satu helikopter untuk patroli," ujar Kepala BNPB Willem Rampangilei saat apel Satgas Karhutla di halaman kantor Gubernur Pekanbaru, Jumat (3/2/2017).

Selain itu ia juga menyebutkan bahwa pihaknya juga memberikan bantuan berupa alat pemadam kebakaran, baju tahan panas, pompa punggung, dan juga kendaraan serbaguna beserta alat dengan daya semprot 100 meter.

Salah satu tantangan dalam memadamkan api di Riau adalah aspek geografis. Dengan wilayah yang luas namun terkendala akses menuju titik api dan minim air di daerah tersebut. "Karena daerah tersebut sulit dijangkau sehingga kita harus menggunakan operasi udara dan darat. Di udara kita upayakan dengan hujan buatan dan water bombing menggunakan helikopter," ujarnya.

Willem mengemukakan, ada dua faktor kunci keberhasilan penanganan kebakaran hutan dan lahan di tahun 2016. Pertama ialah kecepatan antisipasi dini seperti patroli, pemantauan, peringatan dini, sosialisasi kepada masyarakat, dan penegakan hukum. Kedua adalah karena cuaca pada tahun 2016 tidak seburuk 2015 yang kemarau lama dan kering.

"Untuk 2017 kita harus lebih waspada karena tahun ini kemarau relatif normal. Yang artinya tugas dan ancaman kita tidak lebih ringan dibanding 2016," ujarnya.

Kerugian pada saat bencana kabut asap kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2015 mencapai Rp221 triliun. Itu di luar kerugian non material seperti kerusakan flora dan fauna, kesehatan masyarakat, pendidikan, bandara, serta sosial masyarakat.

Willem menegaskan, pencegahan dan penanganan Karhutla merupakan tugas sepanjang tahun. Menurut evaluasi BNPB, musim kemarau 2017 akan terjadi dua kali, yaitu pada akhir Februari hingga April dan pada Juni hingga November.

"Jangan lengah sedetik pun, kesatuan komando dan koordinasi merupakan hal penting dalam penanganan serta pencegahan Karhutla. Tahun ini Riau harus bebas asap lagi," kata dia, speerti dikutip dari antarariau. (sfa)