City Portal of Pekanbaru

Debat kandidat walikota tak greget, programnya pun mirip-mirip

Debat.jpg
(ist)

PEKANBARU - Debat kandidat pasangan walikota dan wakil walikota Pekanbaru yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pekanbaru di Hotel Pangeran, Sabtu (4/2/17,) terkesan kurang greget.

Debat publik yang diikuti lima pasangan calon kepala daerah yang disiarkan langsung oleh stasiun televisi lokal swasta dan radio pemerintah ini agak tersendat. Itu karena penghitung waktu atau timer yang dijadikan acuan durasi bagi masing-masing pasanga calon.

Di samping timer yang beberapa kali mengalami 'error', juga penempatan layarnya yang berada di belakang peserta debat, sehingga penggunaan waktu oleh masing- masing tidak maksimal.

Masing-masing pasangan calon akhirnya berpedoman kepada moderator debat yang dipandu presenter Zilvia Iskandar. Akibatnya, ada beberapa detik waktu yang tersisa tidak termanfaatkan.

"Mestinya penempatan layar timer ada satu berada depan posisi duduk lima pasangan kandidat. Sehingga ada pedoman bagi mereka dalam menggunakan waktu saat menyampaikan visi dan misi atau pun menjawab pertanyaan," tutur Ujang, salah seorang hadirin yang menyaksikan debat publik tersebut.

Sementara pengamat politik dan hukum tata negara Universitas Riau Mexsasai Indra menilai visi-misi lima pasangan kandidat tidak ada yang menonjol.

"Saya kira dari lima calon wali kota dan wakilnya memiliki ada plus minus," kata Indra usai debat publik yang digelar di Hotel Pangeran tersebut.

Mexsasai Indra bahkan menilai dari semua pasangan calon yang akan maju pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2017 memiliki visi-misi yang hampir sama.

"Jadi tidak ada yang menonjol karena empat calon saingan petahana belum pernah menjadi kepala daerah, sehingga dari prestasi tak bisa kita bandingkan," tegasnya.

Secara rinci Mexsasai menjelaskan analisanya bagi masing-masing calon.

Untuk pasangan nomor satu yakni Syahril-Said Zohrin ia menilai visi - misinya cukup bagus karena membangun kota dengan basis religius dimana Pekanbaru yang merupakan ibukota Provinsi Riau identik dengan nilai-nilai Islam.

"Pasangan ini memiliki keinginan menciptakan rasa aman pada masyarakat," ucapnya.

Selanjutnya pasangan ini lebih memiliki kekuatan karena Syahril merupakan Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Pekanbaru.

Selanjutnya untuk nomor urut dua yakni Herman Nazar-Dedi Warman, ia menilai dilihat dari visi dan misinya yang singkat namun aktualisasinya lebih kongkrit.

"Terutama terkait dengan persoalan pokok kota yakni masalah banjr dan sampah, kekuatannya ada pada Herman karena pernah menjadi birokrat di Pemko Pekanbaru," terangnya.

Kemudian analisa pengamat politik yang satu ini untuk nomor urut tiga yakni petahana Firdaus-Ayat Cahyadi, sebutnya lagi visi dan misi lebih kepada upaya melanjutkan program yang sudah ada.

"Maka banyak digunakan upaya meningkakan, kekuaan terletak pada posisi sebagai petahana," ucapnya pula.

Sementara untuk calon nomor empat yakni Ramli Walid-Irvan Herman ia melihat visi dan misi mereka berdua sudah operasional.

"Peta kekuatan terletak pada Irvan sebagai anak mantan Walikota Pekanbaru Herman Abdullah.," katanya.

Namum ia menambahkan hal tersebut juga tidak menjadi jaminan buat kemenangan, karena masyarakat perkotaan lebih rasional.

Terakhir adalah paslon nomor lima yakni Dastrayani Bibra-Said Usman. Walau sempat nyaris gugur oleh Komisi Pemilihan Umum, kini tetap bisa maju.

Untuk visi-misi paslon ini menurut maxsasi upaya mencapainya sudah operasional dan berdimensi historis.

Karena berupaya mempertahankan Pekanbaru sebagai Kota Bertuah.

"Kekuatan paslon ini adalah perpaduan birokrat dan politisi," katanya menambahkan. (ant/sfa)