City Portal of Pekanbaru


Pramoedya pernah dicap komunis, hari lahirnya dirayakan Google

pramoedya.jpg
(ist)

JAKARTA - Tampilan mesin pencari Google Indonesia, Senin (6/2/2017), ramai diperbincangkan. Itu karena menampilkan sosok sastrawan Pramoedya Ananta Toer yang sedang mengetik di mesin tik tua.

Di belakang Pram, terdapat gambar bergerak papan tuts huruf mesin tik jadul, sebagian besar berwarna coklat, hanya empat huruf “Google” yang berwarna-warni.

Bila mengakses google.co.id menggunakan komputer, arahkan kursor ke gambar sosok yang sedang mengetik, akan mencul tulisan “Hari Lahir Pramoedya Ananta Toer ke-92”.

Pram, panggilan Pramoedya, lahir di Blora, Jawa Timur, pada 1925, banyak mengangkat kemanusiaan dan kebebasan dalam bukunya.

Di antara karya yang terbit sejak tahun 50-an, buku Pram yang masih banyak dibaca hingga kini adalah Tetralogi Buru, cerita yang ia tulis semasa pengasingan di Pulau Buru.

Cap komunis melekat pada Pramoedya Ananta Toer saat ia diasingkan ke Pulau Buru selama 14 tahun

Semasa di Pulau Buru, ia menulis karya besarnya yakni Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca dan Jejak Langkah. Peredaran tetralogi Pram itu selama beberapa waktu dilarang oleh pemerintah Orde Baru.

Tetralogi Buru, selain dicetak ulang pada 2015, juga pernah diapresiasi ulang dalam bentuk teater Bunga Penutup Abad oleh aktris Happy Salma.

Pram sendiri tutup usia pada 25 April 2006 lalu. Pram meninggal dikelilingi keluarga besar yang mencintainya. Tapi seperti yang sering ia dengungkan, karena ia menulis, suaranya takkan padam ditelan angin, akan abadi hingga jauh kemudian hari.

Pram hanya penulis, tapi suaranya yang tak pernah padam ditelan angin, dianggap berbahaya menembus zaman.

Hingga saat ini, empat judul dari Tetralogi Buru itu seluruhnya masih beredar dan bisa dibaca. Begitu juga beberapa karya lainnya, seperti Arok Dedes, Mangir, Bukan Pasar Malam, dan Gadis Pantai.

Dalam berkarya, Pram sendiri menaruh harapan untuk Nobel. Pram sempat bergurau pada adiknya, Koesalah Soebagyo Toermengenai bahwa ia akan mendapatkan Nobel di tahun 2004. Kejadian tersebut diceritakaan Koesalah dalam buku Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali: Catatan Pribadi Koesalah Soebagyo Toer.

Tahun berikutnya, 2005 Pram juga disebut-sebut kembali masuk kandidat penerima Nobel Sastra. Namun ternyata penghargaan tersebut gagal lagi didgenggamnya.

Sejumlah isu pun muncul menanggapi kegagalan Pram. Di antaranya adalah penerjemahan karya Pram ke bahasa Inggris yang buruk. Sehingga kesustraannya berkurang. (ant/kps/cnni/pr/sfa)