City Portal of Pekanbaru


Saksi nelayan Kepulauan Seribu: saya ingin Ahok minta maaf

basuki.jpg
(ist)

JAKARTA - Saksi fakta yang bekerja sebagai nelayan di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, Jaenudin alias Panel bin Adim menyebut Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) harus meminta maaf terkait ucapannya mengenai Surat Al-Maidah ayat 51 dalam pidato di kampungnya, September 2016 lalu.

Nelayan berusia 39 tahun itu menjadi saksi pertama dalam sidang kasus dugaan penodaan agama dengan terdakwa Ahok di Pengadilan Negeri Jakarta Utara di auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (7/2/2017).

Kepada majelis hakim, saksi fakta itu mengaku tidak ingat dan memerhatikan isi pidato Ahok saat kunjungan kerja sosialisasi budi daya ikan kerapu di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, yang mengutip surah al-Maidah ayat 51 itu.

"Saya tidak perhatikan Pak (pernyataan surah al-Maidah ayat 51). Saya cuma dengar ucapan kalau ada yang lebih bagus dari saya jangan pilih saya," ujar Jaenudin, satu dari empat saksi dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) di sidang ke-9 Ahok tersebut.

Selain itu, Jaenudin juga hanya mengingat isi pidato Ahok terkait program Ahok pembagian hasil 80-20 budi daya ikan kerapu. Saat ketua majelis hakim Dwiarso Budi Santiarto menanyakan inti dari pidato Ahok yang mengatakan bila ada yang lebih bagus dari Ahok jangan memilih Ahok, Jaenudin mengaku tidak tahu inti dari kalimat tersebut.

Nelayan asal Pulau Panggang itu pun baru mengetahui Ahok terjerat kasus dugaan penodaan agama setelah menyaksikan pemberitaan di televisi sepekan setelah kejadian.

Setelah mengetahui adanya ucapan Ahok yang menyinggung surah al-Maidah ayat 51, Jaenudin menganggap Gubernur DKI Jakarta nonaktif itu harus segera meminta maaf. "Iya harus minta maaf. Saya bilang kalau ada proses hukum silakan saja," kata dia.

Selain Jaenudin, JPU juga menghadirkan tiga saksi lainya, yakni nelayan Pulau Panggang Sahbudin alias Deni, anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia yang juga dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN) Hamdan Rasyid, dan saksi ahli bernama Muhammad Nuh.

Ahok dikenakan dakwaan alternatif yakni Pasal 156a dengan ancaman 5 tahun penjara dan Pasal 156 KUHP dengan ancaman 4 tahun penjara.

Tuai pro dan kontra

Sementara Sahbudin alias Deni, saksi fakta yang juga nelayan di Pulau Panggang, mengatakan pada saat ini masyarakat di sekitar Kepulauan Seribu ada yang pro dan ada yang kontra terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) setelah pidatonya menyinggung Surat Al-Maidah ayat 51.

"Pada saat ini ada pro dan kontra, waktu Pak Ahok kunjungan tidak ada apa-apa," kata Sahbudin menjawab pertanyaan dari tim kuasa hukum Ahok dalam lanjutan sidang Ahok di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa.

Sahbudin pun mengaku pada saat kunjungan Ahok dalam rangka budidaya ikan kerapu di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu itu tidak ada masyarakat yang kecewa.

"Suasana sangat ramai, banyak masyarakat yang foto sama Pak Ahok," ucap Sahbudin.

Selain itu, ia juga mengaku pernah diperiksa polisi sebanyak dua kali.

"Pertama ditanya masalah kunjungan Pak Ahok ke Pulau Pramuka. Kedua tanda tangan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tetapi saya saya lupa harinya," kata Sahbudin. (ant/sfa)