City Portal of Pekanbaru


Pembalakan liar terus berlangsung di Cagar Biosfer Giam Siak Kecil

karhutla.jpg
(ist)

PEKANBARU - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menemukan aktivitas pembalakan liar di kawasan hutan lindung Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis.

"Setidaknya ada lima titik lokasi pembalakan liar yang kami temukan di Cagar Biosfer Giam Siak Kecil," kata Kepala Bidang Pengelolaan Wilayah II BBKSDA Riau, Heru Sukmantoro dalam paparannya di Pekanbaru, Kamis (23/2/2017).

Heru mengatakan temuan itu merupakan hasil penelusuran tim BBKSDA Riau selama sepekan, terhitung sejak 13-17 Februari 2017. Dari penelusuran, petugas menemukan gubuk-gubuk liar, dan kayu-kayu hasil pembalakan liar.

Namun, petugas tidak menemukan para pelaku pembalakan liar. Diduga kuat mereka mengetahui kedatangan tim terpadu saat BBKSDA Riau baru masuk ke dalam Cagar Biosfer.

Heru menggambarkan bahwa di lokasi pembalakan liar itu, akses komunikasi cukup lancar. Sinyal ponsel dengan mudah ditemukan di lokasi tersebut.

Padahal, dia mengatakan tim harus berjalan selama tiga jam untuk mencapai lokasi pembalakan liar melalui Desa Tasik Serai, Kecamatan Pinggir, Bengkalis.

"Ini yang kita duga sebagai cara mereka untuk kabur saat mengetahui kedatangan tim," katanya.

Lebih jauh, Heru mengatakan bahwa dari operasi itu, pihaknya telah melakukan pemusnahan terhadap gubuk-gubuk liar yang ditemukan. Kemudian, petugas turut memusnahkan kayu-kayu hasil pembalakar liar. Seluruhnya dimusnahkan dengan cara dibakar.

Setelah melakukan penelusuran melalui darat, Heru mengatakan tim juga memantau melalui udara menggunakan helikopter.

"Kita juga temukan ilegalloging di sejumlah titik, seperti di Batu Kerikin, Semandak, Blok 28, Blok 38 dan Tasik Serai," ujarnya.

Melengkapi Heru, Kepala Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah II Sumatera, Eduwar Hutapea mengatakan dari temuan itu, pihaknya akan melakukan operasi terpadu bersama TNI dan Polri.

Temuan aktivitas pembalakan liar di Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu tentu cukup mengejutkan. Pasalnya, akhir 2016 silam operasi terpadu pernah dilakukan. Saat itu tim membakar, menghancurkan dan menutup kanal-kanal yang terkait pembalakan liar.

Pasca operasi terpadu, aktivitas pembalakan liar memang sempat terhenti. Namun, karena saat itu juga tidak ada yang berhasil ditangkap, disinyalir menjadi alasan para perambah kembali lagi. Terlebih, cukong atau pemodal seolah cukup "sakti" untuk tersentuh hukum.

Ketegasan dibutuhkan dalam menangani para pembalakan liar ini. Sementara negara tidak boleh lemah melawan para pembalak, cukong hingga perambah hutan di Riau. (ant/sfa)