City Portal of Pekanbaru

Perkuat pengawasan lubuk larangan, pemangku adat terapkan denda pelanggaran

Pelepasan-ikan-lubuk-larangan.jpg
(WWF Indonesia)

Desa ini merupakan perkampungan tua yang diperkirakan telah berdiri sejak ratusan tahun silam. Tradisi mengelola lubuk larangan tak hanya di Kampar, tapi juga bisa ditemui di wilayah Kuantan Singingi yakni Desa Pangkalan Indarung, Kecamatan Muara Lembu. Penerapan lubuk larangan ini merupakan bentuk kearifan yang sudah dilakukan sejak tahun 1980-an.

Banyak pengunjung berdatangan, terutama saat tradisi menangkap ikan atau Mamucuak. Meski untuk menuju lubuk larangan penuh tantangan karena pengunjung akan melewati tanjakan terjal dan penurunan tajam.

Di atas sebuah bukit, pemandangan keasrian alam serta wilayah pemukiman dengan latar bukit barisan dan sungai yang membelah tepat di tengah bukit menyajikan panorama nan mempesona.

Salah satu tradisi kearifan lokal yang masih bertahan selama bertahun-tahun adalah pengelolaan sumber daya alam wilayah sungai yang biasa disebut sebagai lubuk larangan Keberhasilan menerapkan kearifan lokal dalam melestarikan alam di desa yang penduduknya mencapai 2.000 jiwa ini telah menarik minat banyak pengunjung setiap tahunnya terutama saat panen ikan atau pembukaan lubuk larangan.

Tidak terhitung antusias masyarakat untuk hadir dalam acara tersebut. Mulai dari bupati, gubernur, menteri, hingga wisatawan yang berasal dari berbagai daerah pernah ikut serta dalam perhelatan adat yang disebut sebagai Mamucuak atau Mancokou.

Dalam memperkuat sistem pengawasan lubuk larangan ini, di masyarakat Desa Pangkalan Indarung sudah ada seperangkat ketentuan-ketentuan berupa sanksi adat yang diberlakukan bagi orang yang melanggar atau mencuri ikan di lubuk larangan.

Pelanggaran sanksi bagi masyarakat umum akan didenda sebesar Rp 500 ribu. Jika yang melanggar adalah pemangku adat atau perangkat desa akan didenda sebesar Rp 1 juta dan selanjutnya akan dilakukan pencopotan jabatan, baik sebagai pemangku adat maupun sebagai perangkat desa Kini semangat pelestarian alam itu pun mulai menyebar ke wilayah lainnya di Kuantan Singingi. Satu di antaranya di Desa Petai, Kecamatan Singingi Hilir. (*)