City Portal of Pekanbaru


Berbagai satwa langka bisa ditemukan di hutan Imbo Putui

Hutan-Imbo-Putui.jpg

Aktivitas pembalakan liar dan perambahan hutan secara massif semakin menyempitkan kawasan hutan. Alhasil, agar dapat mencicipi suasana hutan perawan, butuh usaha keras. Bahkan terkadang butuh menempuh perjalanan sangat jauh.

Nah, jika anda berada di Riau, sensasi hutan perawan itu dapat dirasakan di Desa Petapahan Kecamatan Tapung. Masyarakat setempat menamainya Imbo Putui dan kini kawasan itu dikuasai dan dikelola secara adat.

Tidak seperti hutan perawan lainnya, letak Imbo Putui tidak terlalu jauh dari pusat keramaian. Hutan adat seluas 200 hektare lebih ini hanya sekitar 200 meter tepat di belakang SMK Negeri 1 Tapung serta Gedung Aula Guru UPTD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Tapung.

Sementara, dari Kota Pekanbaru, kesegaran alami Imbo Putui dapat dirasakan hanya dengan menempuh 50 kilometer perjalanan. Setengah lebih dekat dari Bangkinang, Ibu Kota Kampar. Perjalanan darat dari Pekanbaru hanya memakan waktu kurang dari 1 jam. Melintasi Jalan Garuda Sakti sampai ke Simpang Jalan Lintas Petapahan-Pekanbaru.

Berbagai jenis satwa yang tergolong langka dapat ditemukan di dalam hutan itu. Tumbuhan langka dan berusia ratusan tahun juga ada di Imbo Putui. Potensi alam ini bahkan pernah menarik mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) jauh-jauh datang untuk melakukan penelitian.

Berdasarkan pendataan makhluk hidup dalam penelitian yang pernah dilakukan, setidaknya ditemukan 32 spesies burung di hutan tersebut. Paling sering dijumpai, burung elang tikus dan kangkareng putih. Kemudian, ada sekitar 14 spesies mamalia yang berasal dari famili monyet-monyetan. Seperti, lutung, ungko, monyet ekor panjang dan beruk. Bahkan harimau pun ada.

Bukan itu saja, pohon kulim yang diperkirakan berusia antara 150 hingga 180 tahun dapat ditemukan dan masih berdiri kokoh di dalam hutan ini. Tinggi pohon ada yang mencapai 30 meter. Ada juga tumbuhan jenis kempas, kantong semar (sebutan lokalnya, akagh pepowok) yang banyak tumbuh di lantai hutan.

Semua potensi yang ada di dalam hutan ini layak dilestarikan. Pelestarian yang dimaksud dapat dilakukan dengan banyak cara. Misalnya dijadikan hutan penelitian untuk keperluan akademis.

Akademisi dapat menggali kekayaan di dalam hutan yang masih terpendam. Kearifan lokal disana juga mengharapkan semua pihak mendorong hutan itu dijadikan objek ekowisata. Sehingga berdampak pada kesejahteraan masyarakat.(*)