City Portal of Pekanbaru

Fotografer kisahkan detik-detik ia memotret penembakan dubes Rusia

turki.jpg
(associated press)

AKSI penembakan Duta Besar Rusia Andrei Karlov saat membuka pameran foto di Ankara, Turki, membuat dunia terhenyak. Bagaimana si penembak melakukan aksinya, semua terlihat jelas,

Semua itu direkam oleh Burhan Ozbilici, fotografer Associated Press (AP). Uniknya, ia datang ke acara pameran itu karena ada penugasan dari kantornya. "Saya memutuskan untuk datang (ke pameran) hanya karena itu searah jalan pulang dari kantor Ankara," tulis Burhan.

Foto jepretan Burhan begitu dramatis. Si penembak, Mevlut Mert Altintas, berdiri di dekat mayat duta besar, masih dengan pistolnya. Foto itulah yang segera menyebar ke seantero dunia. Memenuhi halaman depan surat kabar terkemuka di berbagai negara, seperti The New York Times, The Wall Street Journal dan New York Post.

Fotonya sederhana, tapi kesannya brutal. Altintas, seorang polisi Turki berusia 22 tahun, terlihat mengenakan setelan jas berwarna gelap sembari memegang pistol. Ia berteriak. Di sampingnya, tubuh Andrei Karlov, Duta Besar Rusia untuk Turki, terlihat terbujur kaku di lantai. Tidak terlihat ada bercak darah sedikit pun. Baik itu lantai maupun dinding.

"Jangan lupa Aleppo, jangan lupa Aleppo. Mereka yang ambil bagian dalam kejahatan (perang) ini akan terkena balasannya. Satu demi satu," teriak Altintas, seperti dilaporkan media-media.

Video di detik-detik sebelum penembakan menunjukkan Altintas tersembunyi di belakang Andrei Karlov . Di ruang pameran yang berjudul “From Kainingrad to Kamchatka, from the Eyes of Travelers."

Altintas terlihat tenang. Tepat saat Andrei Karlov berbicara memberi sambutan, ia bergerak ke kanan. Altintas masih terlihat di dalam frame, saat ia kemudian mengeluarkan pistol kecil dari balik jasnya.

Kemudian Altintas menembak. Andrei Karlov yang ditembak beberapa kali pun jatuh. Para pengunjung pameran yang ketakutan berlari untuk menyelamatkan diri. Sebagian menemukan tempat berlindung. Ada juga yang berlindung di balik meja.

Namun Burhan Ozbilici bertahan. Ia berhasil memotret si penembak.

"Ini yang saya pikirkan saat itu, 'saya ada di sini. Walaupun saya terkena tembakan dan terluka atau terbunuh, saya adalah seorang jurnalis. Saya harus mengerjakan pekerjaan saya. Saya bisa kabur tanpa memotret.... Tapi saya tidak akan bisa memberi jawaban bagus jika orang-orang nanti bertanya: kenapa kau tidak memotretnya?’" tuturnya.

Jepretan Burhan Ozbilici kembali mengingatkan peran fotografer dalam merekam peristiwa penting dan bersejarah.

Meski redaksi media di seluruh negera telah memangkas dana untuk bagian fotografi, jurnalis foto tetap punya peran penting dalam pemberitaan konflik. Seperti di Irak dan Suriah.

Matthew McDermott, jurnalis foto yang telah berkarier selama lebih dari 20 tahun dan telah meliput serangan 11 September hingga gempa bumi di Haiti pada 2005, mengatakan jurnalis foto punya satu kesamaan: mereka menyukai ketegangan. (fxn/ant/sfa)